Minggu, 13 Juli 2008

(Motor) Mengejar Waktu

Minggu lalu motor saya kena tenggat waktu, saya mengurusi STNK nya sekalian. Prosedur yang harus dijalani sebagai pengendara motor yang sedikit baik dan tidak ugalugalan.

Sebuah pelepasan, menghabiskan waktu sambil berkeliling kota dengan berjalan kaki, atau mengendari motor sampai naik bis-meskipun saya tidak tergabung di komunitas “Bis Manis” :bismania.wordpress.com. Hanya saja lalu lintas di Jakarta dan Bandung sangat kurang bersahabat. Stereotipe motor & bis sebagai pengacau jalan sulit dihapus. Saya sendiri juga sering ngamuk ketika naik motor menyaksikan motor-motor yang beratraksi tapi nanggung di jalan.

Motor sudah menjadi bagain hidup saya. Bapak seorang pembalap motor, cerita kaki patah, tulang remuk, engsel copot menjadi dongeng kecil. Setiap hari saya menaiki motor (dibonceng) mulai dari Honda 69 “Biji Nangka” (karena tangki bensinnya mirip biji nangka), Vespa 77 90cc, dan Honda Binter, tapi saya baru diperbolehkan naik motor kelas 2 SMA dengan motor Honda Astrea dan sampai sekarang Vespa Corsa.

Motor praktis diurus, meskipun untuk Vespa perlu kasih saying lebih.. Sekarang, motor membantu saya mengejar waktu ketika kesiangan atau sedang terburu-buru. Mungkin karena saking terburu-buru. Begitu juga dengan warga Jakarta yang lain, saking buru-buru, di minggu yang sama saya ditabrak motor dari arah belakang, ketika saya berjalan kaki sambil merokok. Brukk…dan seperti dapat diduga, penabrak nya lari saja. Tidak seperti biasanya saya jalan di bagian kanan jalan, ketika berjalan di kiri jalan akibatnya lengan kanan saya sedikit memar.

Ya begitulah kelakukan sebagian banyak pengendara motor di Jakarta. Memang pantas dihina, dicaci dan dikutuk untuk mereka yang berkelakukan seperti itu. Saya sudah terbiasa mendengarkan “ungkapan binatang sayang” teman-teman yang memiliki mobil ketika berkendara.

Salah satuyang ikut berpartisipasi adalah Ojeg. Bagi sebagian orang, mereka adalah penyelamat, teramsuk saya, ketika motor saya mogok ataus edang malas naek motor dan terburu-buru. Ada beberapa hal yang saya hindari ketika memilih naik ojeg, yaitu:

1.Tukang ojeg pilih muka tua, tapi bukan kakek-kakek. Mereka yang masih tampang abg cenderung ugal-ugalan. Sebaliknya kalau tua, ya kecepatan motornya berkisar 30km/jam. Ngapain juga naik ojek kalau lama.

2.Siapkan topi atau beanie karena akan sangat malas ketika disuruh pake helm tukang ojek yang dipenuhi jamur tinggak tinggi yang menyebarkan spora gatal-gatal dan penyakit kulit, selain itu dipastikan mengandung berbagai macam serangga kecil yang akan menggerayangi kepala.

3.Siapkan barang yang wangi2, apapaun itu sebagai pertolongan pertama pada keadaan bau. Sering nya bau matahari dari rukang ojek bersemilir terkena angin. Daripada repot kalau bau nya bercampur bau badan!!....wek

4.Mencoba menanggapi jika tukang ojek ngajak ngobrol. Siapa tahu dibalik itu semua terbentang jejaring yang luas.

Jenis motor tukang ojeg yang paling favorit adal

ah Honda RX King, mantap ditunggangi!! Meskipun motor ini sering dipakai jambret bermotor.Apa rasanya ya kalau naek ojeg yang jenis motornya biasa dipakai kaum pemilik modal atau selebriti yang meluangkan naek motor di akhir pekan…?

Mungkin biasa saja, tapi ya sedikit gaya lah kalau naek ojeg Ningrat Limo Bike (NL). Ojeg ini ditujukan untuk eksekutif yang memerlukan mobilitas jarak dekat dengan pilihan Piaggio Granturismo dan Piaggio Fly.Tapi,NL tidak pandang bulu, semua penumpang akan mendapat layanan sama. Helm yang digunakan berkualitas tinggi. Untuk menjaga kebersihan helm, setiap penumpang wajib memakai penutup kepala sekali pakai. NL juga menyediakan jaket pelindung dan penutup bagian bawah. Bagi yang membawa barang bawaan, tersedia bagasi di kendaraan bagian belakang.


Jika diperlukan, menghemat waktu dengan naek ojeg ini, tapi tidak mengehemat uang transport.

Tidak ada komentar: