Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Agustus 2008

Olimpiade Beijing & Kembang Api Summarecon



Pertunjukan spektakuler nan ultra modern tanpa disadari sangat bergerak begitu cepat bergantian. Konser U2 dan Madonna masih membuat saya berdecak kagum ketika melihat konsernya via youtube & DVD. Madonna yang baru saja memulai Sweet & Stick Tournya, bekerja keras untuk kembali menghadirkan sebuah konser yang lekat di hati. Setelah melihat konser terbarunya di youtube, sepertinya Confessions on the dancefloor masih menghadirkan sesuatu yang lebih. Keingintahuan berikutnya adalah tinggal menunggu album baru U2 menyusul konser yang pasti dinanti.

Dua ikon musik itu menjadi patokan dalam membuat sebuah pertunjukan yang spektakuler buat saya sebelum saya melihat pembukaan Olimpiade Beijing 2008.

Saya merasa sangat beruntung dan menjadi salah satu yang berterima kasih kepada TVRI untuk siaran langsung acara yang saat ini memegang rekor sebagai acara tv paling banyak ditonton.

Buat saya pertunjukan di pembukaan Olimpiade Beijing 2008 membuat mereka keturunan Tionghoa semakin percaya diri dalam melakukan apapaun. Mungkin saja mereka sangat yakin lebih hebat dari Madonna atau U2 J

Keseluruhan acaranya membuat air mata sudah berada di ujung mata untuk menetes. Disutradarai oleh Zhang Yimou, Koreografer Zhang Jigang and Chen Weiya dengan piñata musik Tan DunTata. Semuanya diramu dengan tata lampu yang disediakan oleh Martin Lighting yang didesain oleh Sha Xiao Lan dengan lighting production yang dipegang oleh CCTV – Central China Television, semuanya Made In China

Sumber :

www.martin.com

http://en.wikipedia.org/wiki/2008_Summer_Olympics_Opening_Ceremony

Jika ketinggalan coba pesan rekaman pertunjukannya di http://www.mediabanc.ws/

lebih gampang kalo ada di Glodok ya.

Pertunjukannya terasa paripurna jika ditutup dengan kembang api. Meskipun ada pro kontra diantara kembang api Olimpiade Beijing 2008, tapi penonton tidak berkurang kekagumannya.

Meskipun saya tidak melihat pertunjukan kembang api pembukaan Olimpiade Beijing secara langsung, akhir minggu kemarin saya berkesempatan melihat pertunjukan kembang api yang cukup membuat menganga di Serpong. Dalam skala Indonesia pertujukan kembang apai dengan iringan musik menjadi terbesar dengan penonton sebanyak 10.000 orang. Berlangsung malam hari di lapangan tanah yang tanpa disadari debunya tingkat akut. Meskipun sambil bekerja, menonton pertunjukan kembang apinya menjadi sangat bersemangat karena penonton datang dengan semangat. Sangking semangat mereka rela beradu mulut ketika tidak diizinja n masuk tempat pertunjukan.

Minggu, 13 Juli 2008

Tenggat Waktu

(warga) [OOT] Semilidetik Untuk Meraih Emas

Wednesday,July 9, 2008 7:22 PM

From: "malwa" malwa03@kepribadian-malwa.com

Add sender to Contacts To: warga@yahoogroups.com


[OOT] Semilidetik Untuk Meraih Emas


Rekans, Mudah-mudahan artikel ini bermanfaat yaa..

Semilidetik Untuk Meraih Emas

Jika setiap pagi bank memberi anda pinjaman uang sebesar Rp. 86.400,- bebas untuk digunakan hanya pada hari itu saja, apa yang anda lakukan? Pastinya anda akan memanfaatkan uang itu sebaik-baiknya sebelum hari itu berakhir. Daripada hangus begitu saja, ya kan?

Kita semua memiliki bank seperti itu, namanya WAKTU. Setiap pagi, ia akan memberi anda pinjaman 86.400 detik yang akan hangus jika tidak digunakan pada hari itu juga. Tidak ada waktu tambahan dan tidak ada juga “uang muka” untuk pinjaman esok harinya. Jadi, gunakan waktu anda sebaik-baiknya dan mulailah bertindak sekarang juga.


Agar tahu pentingnya waktu SETAHUN,

tanyakan pada murid yang tidak naik kelas.


Agar tahu pentingnya waktu SEBULAN,

tanyakan pada ibu yang melahirkan bayi prematur


Agar tahu pentingnya waktu SEHARI,

tanyakan pada tukang bakso yang tidak bisa jualan hari ini.


Agar tahu pentingnya waktu SEMENIT,

tanyakan pada orang yang ketinggalan pesawat terbang


Agar tahu pentingnya waktu SEMILIDETIK,

tanyakan pada peraih medali perak cabang renang di Olimpiade


Tetap SEMANGAT!

Rosa S Rustam



Email diatas adalah salah satu email yang saya baca di pagi hari, disaat beberapa kejadian berkaitan erat dengan masalah waktu. Mulai dari eksekusi terpidana hukuman mati, STNK motor saya yang habis masa berlakunya, sampai kepada tenggat waktu pembayaran kartu kredit, proposal penelitian, kerjasama media untuk sebuah event, proposal buku!!


Waktu untuk (Mereka) terpidana mati !!

Awal minggu ini di koran, elektronik, dan tv berita rencana eksekusi mati tiga terpidana mati buat saya lebih menarik diikuti daripada perhelatan PON di Samarinda. Mereka adalah Sumiarsih dan putranya Sugeng yang membunuh keluarga Letkol(Mar) Purwantio di surabaya tahun 1988 dan dukun yang terkenal meskipun tidak berkecimpung di dunia digital adalah Dukun AS yang membunuh 4 perempuan di Medan.


Jumat pagi saya mendapatkan berita Dukun AS sudah ditembak mati pada Kamis malam Setelah diotopsi jenazah kemudian di salatkan di musala rumah sakit. Setelah itu jenazah dukun AS dibawa dengan sebuah mobil ambulans ke kampung halamannya di Dusun Lima Belas, Desa Sungai Semayang, Sunggal Deli Sedang.


Dia divonis hukuman mati di Pengadilan Negeri Deli Serdang pada April 1997.

Selama menghabiskan waktu di penjara sampai Jumat Kamis 10 Juli 2008, dipastikan Dukun As bertobat. Setiap waktu pasti berharga untuk menabung kebaikan apapaun itu peruntukannya.


Ditempat berbeda, diwaktu yang sama saya menghabiskan waktu untuk apa ya?

Padahal saya juga tidak bisa menolak maut dan menyusul Dukun AS !!


Ketika maut sudah tinggal menunggu waktu buat Sumiati dan anaknya Sugeng, mereka masih meminta eksekusi mereka ditunda dan bahkan dibatalkan, karena menurut Sumiati mau hanya kuasa Allah.

Sumiati dan putranya Sugeng telah menjalani hukuman selama 20 tahun sejak divonis Pengadilan Negeri Surabaya, karena telah terbukti melakukan pembunuhan berencana terhadap satu keluarga di Jalan Dukuh Kupang Timur 24 Surabaya tahun 1988.


sumber:

www.liputan6.com

www.okezone.com

Warta Kota

Indo Pos

Senin, 24 Maret 2008

Kritik Apa Yang manis ?

Menghabiskan libur panjang bersama teman teman setelah kesempatan menjadi berharga karena mereka sibuk. Salah satu dari salah empat teman berdiskusi adalah Buhpy. Dia nyetir mobil selama 8 jam dari Bandung-Jakarta via Cipularang pada 19 Maret 2008. Berkendara dimulai jam 21.00. Harapannya mudah-mudahan jalan sudah tidak macet, kalo padat ya dimaklum saja. Berharap kita bisa berkumpul 20 Maret, masing-masing akhirnya menghabiskan waktu untuk tidur. Seperti membayar hutang yang harus dibayar.
Akhirnya, 22 Maret 2008 kita bisa berkumpul di sebuah tempat di Dago yang bernuansa temaram, tapi cenderung gelap karena sumber cahaya hanya berasal dari lilin gelas yang dinyalakan di setiap meja.Obrolan dimulai denagn membahas ramainya orang dari Jakarta datang ke Bandung. Pembahasan soal kemacetan, tips menghindari padatnya jalan dengan mengambil jalan alternative, dll. Kemudian obrolan pekerjaan juga dibahas, sampai akhirnya pengalaman–pengalman pribadi yang berkesan dalam satu bulan terakhir.
Salah satu yang panas menjadi bahan pembicaraan adalah pengalaman Buhpy sebagai seorang editor yang beberapa minggu lalu berada dalam situasi yang dipenuhi kritik cenderung caci-maki di sebuah diskusi buku yang dihadiri oleh beberapa editor dari Gagas Media. Diskusi nya yang diadakan di Tobucil Bandung, sebuah tempat yang kecil namun menampung luasnya isi pengetahuan dari berbagai buku, tapi entah bagaimana menurut Buhpy sore itu tempat tersebut begitu “panas” karena adanya kritikan yang datang dari mereka yang menyebut dirinya “oposan” dari penjaga gawang produksi buku-buku Gagas Media.

Salah satu kutipan yang masih saya ingat dari Buhpy kurang lebih seperti ini
“Dimanakah intelektualitas editor Gagas Media diletakan dalam menerbitkan sebuah buku”
Saya kemudian berpikir, apa tidak ada cara yang lebih baik dipilih untuk menyampaikan isi intelektualitas sang kkritikus?

Mudah-mudahan keberadaan orang diatas bisa dihargai dalam bentuk apapun, karena tidak adanya penghargaan khusus untu seorang kritik. Seperti The Pulitzer Prize for Criticism yang sudah diberikan sejak 1970 untuk mereka yang memasuki kriteria berikut :
a newspaper writer who has demonstrated 'distinguished criticism'. Recipients of the award are chosen by an independent board and officially administered by Columbia University

Minggu siang, minggu yang lalu, seperti biasa saya bangun siang, menyalakan TV sambil menonton Cinta Laura yang tidak senang memakai make up, dilanjutkan dengan program berita ringan seputar tempat makan dan tempat wisata. Salah satu yang saya tunggu adalah program Potret, sebuah program bertajuk Bentang Ragam Budaya Indonesia. Topik yang dipilih adalah Fenomena film Ayat Ayat Cinta -mengutip dari Warta Kota 23 Maret 2008, film ini menembus angka 3 juta penonton.
Dalam program acaranya, kelebihan-kelebihan film ini, terutama tema yang dipilih dan laku-kerasnya buku yang dijadikan adapatasi cerita film Ayat Ayat Cinta semuanya diceritakan.
Tidak ketinggalan kritikus film juga diberi porsi dalam acara ini. Salah satu kritikus film yang dijadikan nara sumber adalah Eric Sasono (praktisi, penulis & kontributor di www.rumahfilm.org) Dia mengatakan kurang tepatnya adalah tokoh utamanya Fahri sangat to good to be true.Perjuangan yang dilakukan Fahri hanya memperjuangkan dirinya sendiri untuk istri-istri cantik dan salah satunya istri kaya. Film ini kembali menhadirkan sebuah mimpi. Bagian ini kemudian ditutup oleh narrator yang menyebutkan Kritik untuk sebuah pembelajaran harus terus bergulir.

Saya kemudian berpikir, saya menyetujui sebagian atas apa yang dikritik dan bagian saya yang tidak setuju tidak membuat saya kesal dengan kritikusnya

Menambah tulisan ini, saya teringat pada salah satu mata kuliah saya yaitu Media Literacy dan Construction of Reality, How to read a Movie. Dalam kedua sesi kuliah seminat tadi akhirnya terdapat dua kubu yaitu analisis pada studi budaya dan analisis ekonomi politik.
Saya berpihak pada analisis studi budaya, karena saya bisa berpikir kemudian menjelaskan pemikiran dengan berpijak pada perkembangan pengalaman sejarah. Ketika horror dan cinta menjadi tema yang banya dipilih oleh produsen buku dan film, alasan yang saya bisa kemukakan, karena 2 hal itulah menjadi bagian keseharian dalam kehidupan. Sementara banyak orang mencaci maki film-film seperti ini. Saya pastikan mereka juga masih percaya klenik yang sudah mendarah daging dalam identitas dirinya.
Mengutip pendapat DR.Seno Gumira A dalam kuliah seminar diatas, keberadaan tema-tema seperti itu merangsang masyarakat untuk menciptakan sesuatu yang baru, karena masyarakat juga punya penilaian masing-masing. Misalkan dari 3 juta penonton mencintai dan menangisi film Ayat Ayat Cinta, masih terdapat masyarakat yang juga mau menonton film Lari Dari Blora. Ketika cinta dan horror berjaya, muncul tema komedi yang sekarang banyak diadikan tema film. Saya merasa masih akan banyak orang-orang yang berkorban untuk memproduksi buku dan film yang beraneka ragam demi perkembangan budaya. Jadi bila saya tidak suka dengan film atau buku karena rumah produksi dan penerbit hanya membuat bertema itu itu saja, jangan sedih karena dipastikan ada rumah produksi dan penerbit yang akan menghasilkan tema-tema yang membuat semakin beragam.

Senin, 17 Maret 2008

Semangat si Minoritas !!

Tajuk berita minggu II Maret 2008 salah satunya ramai memberitakan protes masyarakat Tibet di Lhasa. Sekitar seratus orang meningal. Demonstran yang dimotori oleh biksu yang menggalang semangat kemerdekaan Tibet, sekaligus bertepatan dengan “pemberontakan” pada Maret 1959, yang membuat pemimpin spirituan Tibet dalai lama, mengungsi ke Dharamsala, India.( sumber : Kompas 16 Maret 2008)



Tibet mampu menjadi magnet spiritual bagi masyarakat di Barat. Keindahan Tibet sebagai “atap dunia” juga menarik hati banyak petualang, baik luxurious adventurer dan backpacker.

China sebagai etnis mayoritas, menjadikan etinis Tibet sebagai minoritas. Kekuasaan yang begitu besar membuat etnis Tibet merasa terkekang dengan keberadaan China . Namun selama lebih dari 50 tahun Tibet mampu bertahan dan menata diri





Semangat apa yang membuat itu terjadi….apakah karena mereka minoritas ?



Sebelum saya sempat membaca Kompas untuk mendapat keterangan diatas, pagi hari saya harus berangkat ke Serpong jam 7 pagi untuk meliput acara syukuran pembukaan sekolah. Saya terlambat sampai di tempat acaranya, dengan kebingungan sambil bertanya tanya, sebenarnya sekolah macam apa yang dibuka.



Sambil berusaha membelalakan mata, saya membaca bulletin sekolah edisi pertama yang dibagikan di meja penerima tamu. Sekolah yang dibuka adalah sekolah yang berbasis pendidikan nasional yang menggunakan bahasa pengantar bahasa Indonesia, Mandarin, dan Inggris. Nama sekolahnya adalah Pahoa.



Sekolah Pahoa sudah berumur 107 tahun. Pembukaan sekolah ini juga diramaikan dengan temu alumni. Aki-aki dan nini-ni berkeliaran dengan semangat. Usianya ada yang sampai 80 tahun lebih. Itu mungkin karena rahasia obat China ,selain gaya hidup mereka yang sehat.



Saya tidak terlalu semangat melanjutkan membaca bulletin yang banyak dihiasi huruf kanji, alasannya ngantuk karena saya baru tidur satu jam. Acara terus berlanjut sampai pada bagian paling membosankan, PIDATO SAMBUTAN …… phuihhhh



Dengan badan yang kurang cairan dan tidak bersemangat saya berusaha mendengarkan sambil curi curi tidur, tapi reaksi yang timbul adalah saya menjadi begitu semangat mendengarkan isi pidatonya yang sangat mengharukan.



Sekolah Pahoa yang dibuka ini adalah renewal dari sekolah Pahoa yang sudah mati suri selama 40 tahun. Inisiatif dan kerjasama dari alumni sekolah Pahoa yang membuat sekolah ini kembali ada.



Sekolah ini mengalami mati suri, alasan utama adalah keterkaitan sekolah Pahoa dengan etnis Cina sangat melekat. Sejarah membuktikan apa yang dialami etnis minoritas di Indonesia ini. Sambil saya mendengarkan pidato, saya kembali membaca bulletinnya, dan inilah data yang saya dapatkan :

1.Tahun 1942, ketika Bala Tentara Jepang menduduki Indonesia, sekolah Pahoa di jl.Perniagaan – Kota ditutup untuk beberapa waktu, namun atas perjuangan kepala sekolah dan guru-guru akhirnya sekolah kembali bisa dibuka , namun hanya untuk sekolah dasar.



2.Desember 1957, karena pelaksanaan peraturan larangan murid-murid WNI dan dwinegara bersekolah di sekolah asing terjadi ketimpangan-ketimpangan yang amat tidak adil, sehingga gedung sekolah Pahoa seluruhnya diserahkan kepada Sekolah Swasta Nasional Pendidikan dan dan Pengadjaran, akibatnya sekolah Pahoa beserta guru dan muridnya akan kehilangan gedung untuk melanjutkan proses belajar. Namun akhirnya, sekolah Pahoa dipindahtempatkan di sebuah gedung di jl.Blandongan no.37.



3.Perubahan besar-besaran pada tahun 1965-1966, akibat G-30-S, baik sekolah Sekolah Swasta Nasional JPP maupun sekolah Pahoa keduanya disita dan tidak diketahui apa sebabnya, Akhirnya pada 6 April 1966, sekolah Pahoa ditutup.



Kembali ke soal pidato Pahoa yang menggebu-gebu. Beberapa perwakilan alumni dan pengagas sekolah Pahoa yang baru menyerukan kebahagiaan akan almamater mereka yang akhirnya bisa kembali hadir untuk bisa mendidik generasi selanjutnya.



Semangat apa yang membuat itu terjadi….apakah karena mereka minoritas ?


Saya berpikir dan satu botol air minum mineral saya tenggak dalam dua kali tarikan, sebuah semangat yang bisa dilakukan si minoritas atau mayoritas.