Menghabiskan libur panjang bersama teman teman setelah kesempatan menjadi berharga karena mereka sibuk. Salah satu dari salah empat teman berdiskusi adalah Buhpy. Dia nyetir mobil selama 8 jam dari Bandung-Jakarta via Cipularang pada 19 Maret 2008. Berkendara dimulai jam 21.00. Harapannya mudah-mudahan jalan sudah tidak macet, kalo padat ya dimaklum saja. Berharap kita bisa berkumpul 20 Maret, masing-masing akhirnya menghabiskan waktu untuk tidur. Seperti membayar hutang yang harus dibayar.
Akhirnya, 22 Maret 2008 kita bisa berkumpul di sebuah tempat di Dago yang bernuansa temaram, tapi cenderung gelap karena sumber cahaya hanya berasal dari lilin gelas yang dinyalakan di setiap meja.Obrolan dimulai denagn membahas ramainya orang dari Jakarta datang ke Bandung. Pembahasan soal kemacetan, tips menghindari padatnya jalan dengan mengambil jalan alternative, dll. Kemudian obrolan pekerjaan juga dibahas, sampai akhirnya pengalaman–pengalman pribadi yang berkesan dalam satu bulan terakhir.
Salah satu yang panas menjadi bahan pembicaraan adalah pengalaman Buhpy sebagai seorang editor yang beberapa minggu lalu berada dalam situasi yang dipenuhi kritik cenderung caci-maki di sebuah diskusi buku yang dihadiri oleh beberapa editor dari Gagas Media. Diskusi nya yang diadakan di Tobucil Bandung, sebuah tempat yang kecil namun menampung luasnya isi pengetahuan dari berbagai buku, tapi entah bagaimana menurut Buhpy sore itu tempat tersebut begitu “panas” karena adanya kritikan yang datang dari mereka yang menyebut dirinya “oposan” dari penjaga gawang produksi buku-buku Gagas Media.
Salah satu kutipan yang masih saya ingat dari Buhpy kurang lebih seperti ini “Dimanakah intelektualitas editor Gagas Media diletakan dalam menerbitkan sebuah buku”
Salah satu kutipan yang masih saya ingat dari Buhpy kurang lebih seperti ini “Dimanakah intelektualitas editor Gagas Media diletakan dalam menerbitkan sebuah buku”
Saya kemudian berpikir, apa tidak ada cara yang lebih baik dipilih untuk menyampaikan isi intelektualitas sang kkritikus?
Mudah-mudahan keberadaan orang diatas bisa dihargai dalam bentuk apapun, karena tidak adanya penghargaan khusus untu seorang kritik. Seperti The Pulitzer Prize for Criticism yang sudah diberikan sejak 1970 untuk mereka yang memasuki kriteria berikut :
a newspaper writer who has demonstrated 'distinguished criticism'. Recipients of the award are chosen by an independent board and officially administered by Columbia University
Minggu siang, minggu yang lalu, seperti biasa saya bangun siang, menyalakan TV sambil menonton Cinta Laura yang tidak senang memakai make up, dilanjutkan dengan program berita ringan seputar tempat makan dan tempat wisata. Salah satu yang saya tunggu adalah program Potret, sebuah program bertajuk Bentang Ragam Budaya Indonesia. Topik yang dipilih adalah Fenomena film Ayat Ayat Cinta -mengutip dari Warta Kota 23 Maret 2008, film ini menembus angka 3 juta penonton.
Dalam program acaranya, kelebihan-kelebihan film ini, terutama tema yang dipilih dan laku-kerasnya buku yang dijadikan adapatasi cerita film Ayat Ayat Cinta semuanya diceritakan.
Tidak ketinggalan kritikus film juga diberi porsi dalam acara ini. Salah satu kritikus film yang dijadikan nara sumber adalah Eric Sasono (praktisi, penulis & kontributor di www.rumahfilm.org) Dia mengatakan kurang tepatnya adalah tokoh utamanya Fahri sangat to good to be true.Perjuangan yang dilakukan Fahri hanya memperjuangkan dirinya sendiri untuk istri-istri cantik dan salah satunya istri kaya. Film ini kembali menhadirkan sebuah mimpi. Bagian ini kemudian ditutup oleh narrator yang menyebutkan Kritik untuk sebuah pembelajaran harus terus bergulir.
Saya kemudian berpikir, saya menyetujui sebagian atas apa yang dikritik dan bagian saya yang tidak setuju tidak membuat saya kesal dengan kritikusnya
Menambah tulisan ini, saya teringat pada salah satu mata kuliah saya yaitu Media Literacy dan Construction of Reality, How to read a Movie. Dalam kedua sesi kuliah seminat tadi akhirnya terdapat dua kubu yaitu analisis pada studi budaya dan analisis ekonomi politik.
Saya kemudian berpikir, saya menyetujui sebagian atas apa yang dikritik dan bagian saya yang tidak setuju tidak membuat saya kesal dengan kritikusnya
Menambah tulisan ini, saya teringat pada salah satu mata kuliah saya yaitu Media Literacy dan Construction of Reality, How to read a Movie. Dalam kedua sesi kuliah seminat tadi akhirnya terdapat dua kubu yaitu analisis pada studi budaya dan analisis ekonomi politik.
Saya berpihak pada analisis studi budaya, karena saya bisa berpikir kemudian menjelaskan pemikiran dengan berpijak pada perkembangan pengalaman sejarah. Ketika horror dan cinta menjadi tema yang banya dipilih oleh produsen buku dan film, alasan yang saya bisa kemukakan, karena 2 hal itulah menjadi bagian keseharian dalam kehidupan. Sementara banyak orang mencaci maki film-film seperti ini. Saya pastikan mereka juga masih percaya klenik yang sudah mendarah daging dalam identitas dirinya.
Mengutip pendapat DR.Seno Gumira A dalam kuliah seminar diatas, keberadaan tema-tema seperti itu merangsang masyarakat untuk menciptakan sesuatu yang baru, karena masyarakat juga punya penilaian masing-masing. Misalkan dari 3 juta penonton mencintai dan menangisi film Ayat Ayat Cinta, masih terdapat masyarakat yang juga mau menonton film Lari Dari Blora. Ketika cinta dan horror berjaya, muncul tema komedi yang sekarang banyak diadikan tema film. Saya merasa masih akan banyak orang-orang yang berkorban untuk memproduksi buku dan film yang beraneka ragam demi perkembangan budaya. Jadi bila saya tidak suka dengan film atau buku karena rumah produksi dan penerbit hanya membuat bertema itu itu saja, jangan sedih karena dipastikan ada rumah produksi dan penerbit yang akan menghasilkan tema-tema yang membuat semakin beragam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar