Senin, 17 Maret 2008

Semangat si Minoritas !!

Tajuk berita minggu II Maret 2008 salah satunya ramai memberitakan protes masyarakat Tibet di Lhasa. Sekitar seratus orang meningal. Demonstran yang dimotori oleh biksu yang menggalang semangat kemerdekaan Tibet, sekaligus bertepatan dengan “pemberontakan” pada Maret 1959, yang membuat pemimpin spirituan Tibet dalai lama, mengungsi ke Dharamsala, India.( sumber : Kompas 16 Maret 2008)



Tibet mampu menjadi magnet spiritual bagi masyarakat di Barat. Keindahan Tibet sebagai “atap dunia” juga menarik hati banyak petualang, baik luxurious adventurer dan backpacker.

China sebagai etnis mayoritas, menjadikan etinis Tibet sebagai minoritas. Kekuasaan yang begitu besar membuat etnis Tibet merasa terkekang dengan keberadaan China . Namun selama lebih dari 50 tahun Tibet mampu bertahan dan menata diri





Semangat apa yang membuat itu terjadi….apakah karena mereka minoritas ?



Sebelum saya sempat membaca Kompas untuk mendapat keterangan diatas, pagi hari saya harus berangkat ke Serpong jam 7 pagi untuk meliput acara syukuran pembukaan sekolah. Saya terlambat sampai di tempat acaranya, dengan kebingungan sambil bertanya tanya, sebenarnya sekolah macam apa yang dibuka.



Sambil berusaha membelalakan mata, saya membaca bulletin sekolah edisi pertama yang dibagikan di meja penerima tamu. Sekolah yang dibuka adalah sekolah yang berbasis pendidikan nasional yang menggunakan bahasa pengantar bahasa Indonesia, Mandarin, dan Inggris. Nama sekolahnya adalah Pahoa.



Sekolah Pahoa sudah berumur 107 tahun. Pembukaan sekolah ini juga diramaikan dengan temu alumni. Aki-aki dan nini-ni berkeliaran dengan semangat. Usianya ada yang sampai 80 tahun lebih. Itu mungkin karena rahasia obat China ,selain gaya hidup mereka yang sehat.



Saya tidak terlalu semangat melanjutkan membaca bulletin yang banyak dihiasi huruf kanji, alasannya ngantuk karena saya baru tidur satu jam. Acara terus berlanjut sampai pada bagian paling membosankan, PIDATO SAMBUTAN …… phuihhhh



Dengan badan yang kurang cairan dan tidak bersemangat saya berusaha mendengarkan sambil curi curi tidur, tapi reaksi yang timbul adalah saya menjadi begitu semangat mendengarkan isi pidatonya yang sangat mengharukan.



Sekolah Pahoa yang dibuka ini adalah renewal dari sekolah Pahoa yang sudah mati suri selama 40 tahun. Inisiatif dan kerjasama dari alumni sekolah Pahoa yang membuat sekolah ini kembali ada.



Sekolah ini mengalami mati suri, alasan utama adalah keterkaitan sekolah Pahoa dengan etnis Cina sangat melekat. Sejarah membuktikan apa yang dialami etnis minoritas di Indonesia ini. Sambil saya mendengarkan pidato, saya kembali membaca bulletinnya, dan inilah data yang saya dapatkan :

1.Tahun 1942, ketika Bala Tentara Jepang menduduki Indonesia, sekolah Pahoa di jl.Perniagaan – Kota ditutup untuk beberapa waktu, namun atas perjuangan kepala sekolah dan guru-guru akhirnya sekolah kembali bisa dibuka , namun hanya untuk sekolah dasar.



2.Desember 1957, karena pelaksanaan peraturan larangan murid-murid WNI dan dwinegara bersekolah di sekolah asing terjadi ketimpangan-ketimpangan yang amat tidak adil, sehingga gedung sekolah Pahoa seluruhnya diserahkan kepada Sekolah Swasta Nasional Pendidikan dan dan Pengadjaran, akibatnya sekolah Pahoa beserta guru dan muridnya akan kehilangan gedung untuk melanjutkan proses belajar. Namun akhirnya, sekolah Pahoa dipindahtempatkan di sebuah gedung di jl.Blandongan no.37.



3.Perubahan besar-besaran pada tahun 1965-1966, akibat G-30-S, baik sekolah Sekolah Swasta Nasional JPP maupun sekolah Pahoa keduanya disita dan tidak diketahui apa sebabnya, Akhirnya pada 6 April 1966, sekolah Pahoa ditutup.



Kembali ke soal pidato Pahoa yang menggebu-gebu. Beberapa perwakilan alumni dan pengagas sekolah Pahoa yang baru menyerukan kebahagiaan akan almamater mereka yang akhirnya bisa kembali hadir untuk bisa mendidik generasi selanjutnya.



Semangat apa yang membuat itu terjadi….apakah karena mereka minoritas ?


Saya berpikir dan satu botol air minum mineral saya tenggak dalam dua kali tarikan, sebuah semangat yang bisa dilakukan si minoritas atau mayoritas.

Tidak ada komentar: