Senin pagi dimulai dengan ritual yang salah satunya adalah membuka www.detik.com. Artikel yang muncul pertama saya lihat adalah “I’m stopping TB” di hari TB. 24 Mei ini diperingati sebagai hari Tuberkulosis Sedunia. Dan judul artikel diatas adalah tema yang digaungkannya.Tuberkolosis adalah penyakit yang pernah hinggap di paru paru saya. Tepatnya awal 2004 saya didiagnosa mengidap penyakit yang disebabkan Mycobacterium Tuberculosis. Awalnya saya batuk yang tidak kunjung sembuh, karena kunjung lebih tepat digunakan pada kata keluarga, seperti kunjung pada kunjungan keluarga. Batuk saya tidak parah, hanya sekedar batuk yang tidak membabi buta suaranya. Obat batuk eceran sudah tidak mempan, padahal setiap hari saya menikmati perjalnan dengan naek motor di Bandung cuacanya sedang sejuk di awal tahun.
Sampai akhirnya saya menyerahkan diri untuk diperiksa di rumah sakit langganan tanpa sepengetahuan ibu saya. Alhasil dokter menyarankan saya untuk di photo roentgen. Setelah selesai diphoto, saya kembali ke ruangan Dr. Teguh, Spesialis Paru Paru. Ringkasnya, sambil tersenyum dia bilang , “ ini nih penyakit aneh! Padahal batuk kamu gak parah, kamu kena TBC”. Seperti biasa saya mencoba mengerti dengan diam seperti biasa, kemudian saya bilang “ heh TBC” .
Dalam hati saya berpikir, siapa penyebar kuman nya, padahal saya tidak pernah mencium mereka-mereka yang kotor…wek. Dokter kemudian menjelaskan, itulah TBC sekarang. Bisa menyerang siapa saja! Kasus yang saya alami cukup unik. Penjelasan ini juga diselangi dengan pertanyaan calon dokter yang menemani dan berkesan wannaknow dengan tidak lupa mencatat semua penjelasannya. Kemudian saya menceritakan gejala yang saya alami dengan tidak pernah batuk yang membabi buta itu tadi, tapi berat badan saya memang turun sekitar 5 kilo dalam 2 bulan.
Terakhir Dr.Teguh meyakinkan saya, bahwa salah satu penyebab saya terkena TBC adalah ketahanan tubuh saya menurun karena saya stress. Tepat pada sasaran !!! Banyak pikiran yang iya-iya terutama soal patah hati dan cinta. Stress membuat kuman TBC bergerak leluasa di dalam tubuh, karena kuman ini saat ini berevolusi dengan lingkungan sehingga mereka bisa berkeliaran dimana saja. Meskipun media penyebaran utamanya lewat air liur.
Peringatan pertama Dr.Teguh adalah jangan sedih. Itulah obat paling mujarab!! Jangan dipikiran, mendingan pikiirin TBC nya cepet sembuh. Think Opposite & Think Positive.
Selanjutnya saya harus meberitahukan siapapun yang saya cium untuk segera dites TBC!
Menyusul semua alat makan saya di rumah harus steril dan tidak boleh dipergunakan oleh orang lain. Tidak boleh berbagi minuman dan makan dengan orang lain membuat orang lain berpikir saya kikir. Minum obat anti kuman TBC sebanyak 50 pil perhari. Inilah bagian paling melelahkan, tidak mudah minum pil sekali tengak 10 pil.
Peringatan pertama Dr.Teguh adalah jangan sedih. Itulah obat paling mujarab!! Jangan dipikiran, mendingan pikiirin TBC nya cepet sembuh. Think Opposite & Think Positive.
Selanjutnya saya harus meberitahukan siapapun yang saya cium untuk segera dites TBC!
Menyusul semua alat makan saya di rumah harus steril dan tidak boleh dipergunakan oleh orang lain. Tidak boleh berbagi minuman dan makan dengan orang lain membuat orang lain berpikir saya kikir. Minum obat anti kuman TBC sebanyak 50 pil perhari. Inilah bagian paling melelahkan, tidak mudah minum pil sekali tengak 10 pil.
Awalnya perut saya menolak disusupi pil dengan memuntahkan kembali. Kembali ke peringatan pertama diatas, memang itulah obat paling mujarab. Di tengah Ibu saya yang sedih dan terus berpikir kok bisa anaknya TBC, padahal di rumah dia tidak pernah ketinggalan beberesih. Saya berusaha tampil semangat kapan pun. Tidak boleh ada yang tahu saya TBC. Penyakit yang amsih dianggap memalukan di era 80-an sampai sekarang tidak membuat saya urung meaktualisasikan segala hal yang saya bisa.
Di saat yang bersamaan saya berkesempatan mengunjungi beberapa kota yaitu Medan, Riau, Padang, Lampung, Balikpapan, Makasar, Lombok, Bali, Surabaya, Sidoarjo, Semarang, Yogyakarta, Solo, dan Cirebon. Isi tas punggung saya bertambah berat karena harus membawa botol pil yang jumlahnya sekitar 1000an dan alat makan. Perjalanan ini membawa saya semakin semangat, meskipun bikin cape apalagi setelah minum obat yang sehari 3-5 kali/ hari membuat semakin lemas. Beruntung perjalanan ini membuat saya sedikit lupa dengan kuman kuman yang masih berkeliaran di paru-paru saya.
Memasuki bulan kedua di tengah perjalanan, saya harus diphoto rontgen untuk melihat perkembangan kuman-kuman TBC nya, apakah mereka tetap berkembang biak, atau sebaliknya. Alhmadulillah, kabut yang menandai teritori kuman di photo paru-paru saya mulai sedikit berkurang. Dr.Teguh memberikan target 3 bulan agar saya bisa bebas TBC. Saya hanya bisa senyum senyum miris, karena minum obat hanya berkurang sedikit dosisnya.
Memasuki bulan kedua, saya kemudian membuat strategi baru menghadapi kuman-kuman TBC ini. Kenapa sya benci sama kuman-kuman ini. Mereka memang tamu tak diundang di paru-paru saya, tapi mereka datang karena saya yang membuka pintu masuk yang adalah ketahanan tubuh saya yang loyo. Saya mencoba berkenalan dengan kuman-kuman yang ditemukan oleh oleh Dr Robert Koch, pada tahun 1882.
Setiap saya bangun pagi sebelum minum pil saya menyapa kuman-kuman ini. Bagiamana tidurnya? Banyak kah kuman yang mati? Saatnya kalian menikmati pil yang segera akan dimunim yah !! Ayo jangan makin banyak yah kuman-kumannya, kalos edikit sih boleh, asal jangan bikin susah. Itulah percakapan searah saya dengan kuman kuman TBC. Begitu pun sebelum tidur, saya melakukannya. Rutinitas itu menjadi sebuah hiburan sendiri buat saya. Sebuah pilihan yang saya lakukan hanya untuk sembuh dalam 3 bulan dan bebas TBC dalam 6 bulan. Meskipun patah hati tetap belum bisa diperbaiki, saya berusaha mencangkoknya agar patahnya tidak terlalu tajam karena saya harus mendahulukan prosesi pelepasan kuman-kuman TBC dari paru-paru saya.
Dikutip dari www.detik.com bahwa TBC masih menjadi epidemic di Indonesia. Penyakit ini tidak mengenal siapa yang akan dihingapi kuman-kuman TBC, aplagi mereka yang merasa jauh dengan penyebaran kuman-kuman ini yang dipikirnya hanya hinggap di tempat kotor dan mereka yang miskin semata. Pengalaman saya mengajarkan saya kemungkinan besar menghindari mereka yang terkena TBC adalah kurang tepat. Rasa takut ditulari wajar saja muncul, tapi yang terpenting menjaga ketahan tubuh yang utama.
Alhamdulillah saya akhirnya sembuh dari TBC dalam 3 bulan dan kemudian diteruskan dengan memeriksa setiap bulan berikutnya dan akhirnya saya bebas TBC dalam 6 bulan. Dorongan semangat dari sekitar juga sangat diperlukan untuk membuat mereka yang menderita TBC sekaligus hidup dalam kekuranagn bisa sembuh. Terlalu mudah mati berkuasa di Indonesia karena penyakit ini. Kurangnya akses mendapatkan obat salah satu alasannya. Ayo kita bantu dengan membuat mudah semuanya dan mewujudkan I'm Stopping TB
1 komentar:
menceritakan penyakit paru.. diselingi penyakit hati.. hohoho..
Posting Komentar