Senin, 10 Maret 2008

Konser Awal Tahun 2008

3. Java Jazz

“Udah lah Ben, ikut aja !! Daripada nanti mereka keburu mati, kan nyesel gak nonton taun ini, kayak James Brown ?” tukas Mba Uci KSP/ Café Halaman.
Itulah quote yang sedikit membuat saya mau menonton perhelatan (biar nampak akbar) Jazz terbesar di dunia-tagline itu disebut berulang ulang kali oleh MC panggung disana.

Alhamdulillah saya mendapat tiket gratis dari teman teman yang berbaik hati membagikannya.
Jumat, 7 Maret saya mempersiapkan untuk menonton Matt Bianco, Renee Olstead & Ron King Big Band, Andezz, Pandji Pragiwaksono ( Hip Hop Indo Special Project). Keterbatasan ini saya harus tanggung karena saya baru bisa datang jam 5 sore.

Hari pertama, saya berencana datang bersama Kiki, sahabat saya yang bersemangat menikmati musik2 di Java Jazz – berhubung dia penyanyi dan aktris pendukung di acara Tukul Trans 7. Alhasil saya datang jam setengah 7 karena Kiki salah membawa amplop yang berisi tiket konser. Kita harus kembali ke daerah Mampang, padahal kita sudah berada di Senayan. Untungnya saya tidak terlalu bersemangat, kejadian itu tidak membuat saya kesal tak kepuguhan. Lain soal kalo kita berdua bersemangat, pasti dia akan saya bikin kesel sepanjang perjalanan. Meskipun long weekend, jalan-jalan tetap saja padat. Sambil curhat di dalam taksi, tak terasa kita sudah sampai kembali ke Senayan.

Pangung pertama yang saya datangi adalah Femina Lounge, karena saya harus bertemu dengan Claudia Lengkey. Tempatnya sangat nyaman, lengkap dengan pelayanan gratis foot acupressure, facial, dll. Sebelum keluar lounge, saya dibekalli sekotak donut dan 1 botol Aqua. Seperti keluar dari hajatan kampung yang dibekali nasi besek.

Kemudian saya melanjutkan ke Medco Stage karena Renee Olstead & Ron King Big Band akan manggung. Sesampainya, Phuhhhhh penonton penuh sesak, akhirnya saya memilih mendengarkan tepat di pintu gerbang, dan hanya bisa melihat kepala Gadis Yang Insya Allah akan 20 Tahun itu. Sepertinya animo penonton kurang seimbang dengan kapasitas ruangannya. Saya hanya bertahan 10 menit. Meskipun saya tidak hapal cangkem lagu lagunya. Tapi saya sudah berniat mendengarkan presentasi pertunjukan musik mereka.

Saya menlanjutkan pencarian ke Cendrawasih Room tempat Andezz akan manggung. Sepanjang lobby, saya bertemu teman teman yang semangat dan ramah untuk tetap menyapa, meskipun membuat traffic tersendat. Ditambah dengan booth sponsor yang mengahalangi traffic.
Saya memutuskan untuk berdiri mendekati panggung karena Andezz menghadirkan konsep Departure People dengan seragam Pilot & Pramugari ditambah Big Girl Backing Vocal Choir. MenariK!!

Tapi soundsystem kurang mendukung. Sayang sekali. Tapi saya bisa memaklumi, meskipun musik yang dibawakan Andezz akan sangat menghentak apabila didukung dengan soundsytem & lighting yang pas.

Sambil menunggu di panggung yang sama penampilan Panji Pragiwaksono yang mengeluarakn album Maret ini, saya merokok di sekitar luar panggung yang terasa sangat dingin sambil ngobrol dengan topic:

Gaya apa yang paling banyak dipilih yang nonton Java Jazz tahun ini:

Pilihan A. Motif kotak kotak.

Pilihan B. Batik

Untuk Batik, sepertinya Bang Edo Hutabarat- yang juga hadir menonton, harus diberikan penghargaan oleh Java Jazz, karena mampu membuat Batik menjadi sangat melesap dalam konser bernuansa musik ini.

Long Live Bang Edo !!

Akhirnya Panji P Manggung juga….alhasil begitulah !! lagi lagi soundsytem nya kurang mendukung. Padahal session ini sangat penuh semangat.

Kesal dengan ketiga penampilan yang kurang didukung oleh soundsystem yang kurang, akhirnya saya memutuskan pulang dan melanjutkan ke Misch Masch “ Booty Bass Edition”. Semangat & berhasil membuat saya bisa menikmati musik dengan hentakan dan soundsystem yang berakhir memuaskan.

Hari kedua, saya berniat menonton Jody Watley, The Manhattan Transfer, Maysa Leak, Bobby Caldwell. Kenyataannya saya baru bisa datang jam 8malam, Jody watley pun terleatkan…………Bingung kemudian, karena prioritas hari itu menonton penyanyi All begins with you.

Saya akhirnya menonton Manhattan Transfer. Berharap bisa terhibur. Yang ada saya kecewa dengan soundsystem. Daripada kepalang kesal, saya, Kiki & Mba Uci mencoba menikmati suara kakek-nenek yang seadanya dari tribun. Saya tak mau kalah saing dengan kualitas sound system yang sepertinya terbiasa mereka gunakan untuk tempat pertunjukan kecil bukan seukuran plenary JCC.

Saya menutup mata saya, meskipun kelopak mata tetap terbelalak.
Kembali ke era 90an, saya mendengarkan radio Kontinental 107,2 di Bandung sekitar jam 2 siang. Nikmatnya mendengarkan Tim Hauser, Janies Siegel,Cheryl Bentyne dan Alan Paul.
Suara radio mono tapi tetap meghibur. Terkadang keterbatasan membuat kekurangan menjadi bagian keindahan atau kemerduan.
Begitulah saya mencoba menikmati konser kelompok yang telah memenangkan 10 Grammy.

Berikut playlist
Manhattan Transfer
1.Birdland  Terdengar sayup sayup
2.On Boulevard  masih sama dengan atas
3.Hear The Voices Sedikit membaik
4.Route '66  Lumayan,stagnan perbaikan soundsystemnya sampai lagu ke 12
5.Candy
6.Java Jive
7.New Juju Man (Tutu)
8.Smile Again
9.Soulfood To Go
10.Boys From New York City
11.Twilight Zone/Twilight Tone
12.Tuxedo Junction

Rasa kecewa tidak membuat saya menghentikan perjalanan berikutnya menonton Bobby Caldwell. Berusaha positif, Kakek ini juga akan tampil memukau dengan suara khas, tuxedo, topi, dan poni lemparnya.

Diperlukan mengantri selama 1 setengah jam, mulaid ari jam 11 malam kurang, sampai kira-kira saya sudah malas melihat jam. Saya bersyukur tidak bearada diantrian penonton yang craving for BC. Mereka harus berkorban begitu lama. Kasian ibu-ibu atau tante-tante yang mengantri. Saya masih bias selonjoran bersender ke dinding tembok, sambil ngemil. Mereka yang berdiri, saya yakini pulang harus tidur dengan posisi kakai diganjal bantal dan lebih tinggi dari kepala.Yang terburuk mungkin parises.

Pintu dibuka, hanya perlu 5 lagu saya bertahan. Sound systemnya, bagus lah- ini sudah di upgrade penilainya karena sebenarnya ya gitu deh adanya !!

Heart Of Mine, Real Thing, What You Won’t Do For Love, hits radio yang dinyanyikan bersama penonton dengan suara BC yang sudah terengah engah dan sering berhenti di tengah kalimat.
Yang sempurna hanyalah kostum tuxedo dan poni lemparnya.

Pulang yoK!
Itulah saya, kurang mengerti musik Jazz – hanya sekedar. Tapi saya merasa yakin berhak menikmati pertunjukan dengan soundsystem baik meskipun saya gratis menontonnya.

Saya ingin meyakinkan pendengaran saya ini apakah hanyalah masalah pribadi atau media juga memberitakan hal yang sama untuk literasi pembacanya.
Alhasil, hampir semua media tidak memberitakan bahwa soundsytem pertunjukan sangat kurang. Semuanya lebih membahas kepiawaian kakek-nenek ini dalam menampilkan komposisi suara. Mungkin alasan yang paling bias diterima adalah karena salah saya duduk di tribun dengan tiket gratis selama tiga hari, dan kurang menghargai pentingnya berada di paling depan panggung. Alhamdulillah lah, sudah bias wara-wiri eksis di Java Jazz.

Hari ketiga, saya memutuskan di rumah saja. Batal menuju Java Jazz karena kurang siap mental dan kesehatan fisik menurun karenanya. Bubye Fatso Babyface !

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Ben, nonton java jazz tgl 7? Naha teu pendak nya ...

Beneran Pandji bikin album? Musiknya kayak apa?