Tampilkan postingan dengan label konser. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label konser. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 April 2008

Duran Duran di Jakarta

Setelah seharian menemui orang-orang memuakan dan beberapa tes yang menjemukan, tepat jam 20.00 malam saya mendapat kepastian untuk mendapatkan id press untuk nonton Duran Duran kedua kalinya.Saya baru sampai Plenary Hall jam 20.45, sambil merokok saya menunggu Teli yang datang 10 menit kemudian. Kita langsung bergegas masuk menuju panggung, tapi tempat kita terpisah, saya mendapat jatah menonton di tribun sebelah kanan panggung, sedangkan Teli di festival. Ketika saya menaiki tangga tribun, anggota Duran Duran juga mulai memasuki panggung. Alhamdulillah saya tepat waktu.



Langsung mereka mulai dengan lagu The Valley disusul dengan sambutan pertama dari Simon yang kemudian menyanyikan hits lama pertama konser malam itu, Hungry Like The Wolf. Di sini mulai terasa sound sytem kurang begitu nyaman di dengar, namun hal itu tidak membuat sedih karena penampilan mereka yang bersemangat membalas kerinduan. Lagu ini disambut penggemar dengan semangat, meskipun tata lampu nya cukup biasa saja untuk band sebesar Duran Duran. Backdrop panggung juga sangat sederhana dengan meredakan pemikiran, kalo backdrop nya adalah LED mungkin harga tiketnya akan lebih mahal lagi dan tak terjangkau dibeli penggemar di Indonesia. Tiket konsernya kali ini tergolong mahal.





Planet dinyanyikan sebagai lagu berikutnya yang membuat penonton melompat bersama. Simon mulai terasa terganggu dengan sound system keliatannya, karena beberapa kali dia menengok ke arah kiri tempat sound engineer mereka standby. Dari lagu lama tadi, Simon mengajak penonton untuk sejenak menikmati lagu lagu dari album terakhir mereka Red Carpet Massacre yaitu Runner. Album terbarunya yang sangat kekinian juga diimbangi dengan gaya panggung personil Duran Duran yang masih yahud. Simon memakai celana ketat hiotam, sepatu kulit hitam ujung runcing dan kemeja hitam bertuliskan Massacre yang menurut Teli seperti kemeja sablonan distro abal-abal. John Taylor memakai kemeja hitam, celana ketat hitam dengan sepatu boots hiotam semata kaki. Nick memakai blazer kasual dan celana hitam sepatu warna silver, sedangkan Roger Taylor memakai kemeja putih, celana hitam dan sepatu oxford bewarna putih yang saya pikir inilah penampilan drummer ter yahud yang pernah saya lihat.





New Religion dan Falling Down dinyanyikan berturut turut dengan pengantar sedikit curhatan Simon tentang karir Duran Duran yang merangkak dari bawah, menuju puncak melebihi artis AFI, kemudian mengalamii penurunan, sampai mereka kembali berjaya.




Come Undone dinyanyikan selanjutnya dan mulai membuat penonton greget untuk bernyanyi bersama dengan penuh luapan emosi. Disusul dengan Union of the Snake dengan nunasa khas Duran Duran yang dilengkapi dengan The Reflex, A view To a Kill, dan Notorious. Di sesi inilah saya menikmati penampilan mereka dan penonton era-80an yang sudah tidak bisa menahan hasrat berdansa meskipun off beat dengan ritme musiknya. Apresiasi orang Indonesia memang luar biasa, dengan sound sytem yang kurang, mereka sangat mengapresiasi kehadiran Duran Duran. Mudah2an ini juga terjadi ketika mereka mengapresiasi musik dan musisi Indonesia…wek!!




Lagu yang ditunggu tunggu semua penonton akhirnya dihadirkan, Save A Prayer. Simon menyanyi dilengkapi gitar akustik. Mari menyanyi bersama sekeras mungkin dengan intronya menurut saya adalah salah satu intro yang mudeng sepanjang masa.




Nuansa Timbaland yang bekerja sama di album terakhir juga hadir. Skin Divers dan Tempted membuat suasana seperti klab klab dengan peneonton berjubel. Saya tetap bersemangat dengan usaha mereka !!




Simon kemudian bilang kalo Nick akan memotret penonton dengan kamera ponselnya, seketika sound effects blitz kamera terdengar sebagai penanda lagu Girls On Film. Selanjutnya Ordinary World dinyanyikan bersama sama seluruh Plenary, sampai wanita di depan saya yang sepanjang konser hanya sms-an mulaii bernyanyi. Berikutnya Sunrise dinyanyikan dengan efek lampu yang paling terang sepanjang konser serasa melihat vidoeklipnya. Lagu yang saya tunggu akhirnya dinyanyikan, Wild Boys. Saya mungkin bersemangat, tapi tidak seberapa dengan seorang penggemar fanatik-nampaknya yang memakai bandana dan celana icy blue jeans yang dimasukan ke dalam boots. Sepertinya dia sudah tidak bisa menahan emosi lagunya sampai memaknainya dengan berdiri di ujung pegangang tribun Plenary yang nampak seperti atraksi permainan nekat lompat dari tribun ke arah festival. Lagu ini menjadi terakhir sebelum mereka melakukan encore dengan Rio. Phuihhhhhh !!




Beruntungnya saya melihat konser Duran Duran di Jakarta 18 April 2008. Kesempatan melihat dan memantau peristiwa yang mungkin tidak saya dapatkan. Beberapa yang saya simpan adalah :



1. Pemain pendukung di konser ini adalah Ana Rose-Backing Vocal yang memakai baju dari kulit mengkilap, Simon Willescroft-saxophone, dan Dom Brown- electric guitars yang menunjukan bukti s pada kata guitar karena mengganti gitar setiap pergantian lagu. Total yang saya sempat liha dan perjhatikan, dia mengganti gitar sebanyak 9 kali.



2. Eva Celia Lesmana yang menonton bersama Sophia Latjuba mengikuti dan menyanyikan lagu lagu Duran Duran sambil berdiri selama konser. Sesekali dia duduk ketika Duran Duran menyanyikan lagu dari album terbarunya.



3. Penonton konser sangat menghibur dan berkesan menjadi tontonan selama konser. Saya berkesempatan melihat gaya off beat, bahkan ketika menikmati lagu beberapa orang melompat off beat dengan irama lagu, anomali di tengah penonton yang melompat on beat mengikuti Duran Duran.



4. Sebelum masuk Plenary saya dan jurnalis dibagikan Song List Duran Duran untuk konser malam itu. Jika anda kurang mengenal lagu-lagu Duran Duran kertas itu akan menjadi jebakan Vietkong ketika menjadi sumber tulisan di media massa. Untungnya di beberapa koran 9 April 2008 yang saya baca jurnalis nya tidak mencantumkan urutan lagu-lagu konsernya….cari aman mungkin. Tinggal saya menunggu tulisan di majalah yang akan terbit beberapa minggu ke depan.




Sehat & Sukses Terus



BZ









Senin, 07 April 2008

Long awaited Sting Sacred Love World Tour in KL

Salah satu daftar tunggu usaha mengisi pengalaman hidup keduniawian saya,diantaranya adalah bertemu,melihat,atau menonton konser dari beberapa my most dreamed father figure. Dia sekaligus teman khayal saya ketika masa puber menghantui. Di sela waktu bekerja dalam sebuah diskusi distribusi musik & analisis entitas musik, keinginan itu terwujud ketika saya mendapatkan kesempatan istimewa untuk menonton konser Sting di Kuala Lumpur 1 Februari 2005. Konser di KL ini merupakan bagian dari Sacred Love World Tour. Sebelum tampil di KL, Januari 2005 Sting menggelar konser di Singapura,Thiland, India,dan Korea Selatan.

Konser Gordon ‘Sting’ Sumners di Kuala Lumpur digelar di Putra Stadium,Bukit Jalil. Dengan keunggulan transportasi publik, tempat konser yang sangat jauh dari pusat kota bisa dicapai dalam 30 menit,

Harga tiket konser dijual dengan harga RM128, RM228, RM348 and RM468.Untuk membeli tiket tidak perlu antri karena ternyata jumlah penonton hanya sekitar 5000 penonton. Jumlah tersebut hanya mengisi sekitar 60 persen dari kapasitas total tempatnya.Jumlah ini mungkin tidak terlihat oleh Sting dari panggung, karena bantuan tata lampu yang bisa mengkamuflase

Jumlah penonton tidak sesuai dengan bayangan saya,karena konser Sting kali ini merupakan konser kedua di Asia Tenggara setelah satu dekade Sting tidak menggelar konser. Dengan percepatan intuisi mengenali orang Indonesia yang sudah paten, dipintu masuk saya melihat Udjo& Tika P Project, kemudian bertemu dengan usher ticket yang adalah mahasiswa asal Indonesia. Konser yang rencananya dimulai jam 20.30,baru dimulai jam 21.45. Menunggu lebih dari satu jam tidak terasa,dihabiskan dengan melihat tingkah polah stereotipe satu kumpulan penonton asal Jakarta yang mendambakan eksistensi dan mencari perhatian, tidak ketinggalan potongan rambut asal salon seribu orang di Jakarta Selatan.

Konser dimulai dengan interlude instrumental A Thousand Years, lagu yang paling saya tunggu, dibantu dengan tata lampu yang sepertinya kebiruan (red. penulis adalah seorang buta warna parsial). Sting mulai terlihat dengan setelah hitam dengan detail putih dikerah dan ujung tangan kemeja. Impresi kata awal adalah tua,kemudian kagum dengan figurnya. karena saya yakin dia berhasil dengan kegiatan yoga bersama istri tercinta Trudie Styler.

Dessert Rose yang sangat kekinian menjadi lagu pembuka,kemudian suasana musik mgalami lompatan ke era 80an,Message in the bottle menjadi lagu berikutnya. Setelah selesai menyanyi Sting menyempatkan untuk menyapa penonton dalam Bahasa: ”Selamat malam & apa kabar? ”

Dari album Dream of the blue ,Sting menyanyikan If you love somebody set them fee yang disambung dengan Brand New Day dari album berjudul sama dengan dilengkapi 51 Fender Precision Bass dan band yang menjadi keluarganya selama Sacred Love World Tour ini. Beberapa personil band telah bekerja sama dengan Sting selama hampir 20 tahun. Dalam tur nya ini Sting mengajak sahabatnya Dominic Miller (guitars), Jason Rebello (piano and keyboards) and Keith Carlock (drums), Rhani Krija (percussions, Donna Gardier (back-up vocalists), Joy Rose (back-up vocalists) yang biasanya mengisi vocal di kompilasi album Café Del Mar, juga tidak ketinggalan co-producer album Sacred Love, Kipper (keyboards).

Setelah memperkenalkan personil band nya,Sting kemudian menyanyikan 4 klasik hitsnya secara berurutan.Shape of my heart yang kurang dikenal penonton, kemudian Englishman in New York yang mulai dikenali penonton setelah verse pertama dan dilanjutkan dengan menyanyi bersama dalam keadaan duduk kecuali penonton dari Indonesia & Asing.

Fragile dinyanyikan Sting dengan petikan Guild acoustic guitar yang ukurannya bisa diasosiasikan dengan mini Balenciaga bag. Lagu ini juga ternyata kurang dikenal,mengecewakan!! sementara saya sudah menghabiskan suara untuk kesempatan bernyanyi bersama. Fields of gold menjadi lagu berikutnya ternyata cukup dikenal

Tanpa berinteraksi dengan penonton yang mungkin terlihat canggung, Sting langsung menyanyikan Sacred Love yang menjadi judul tur nya kali ini dengan sentukan remix pada musiknya,meskipun Sting tidak mengajak Victor Calderone. Giliran Joy Rose(back up vocalist) menunjukan kemampuan mencapai nada nada mendekati luar batas ambang oktaf. Dia berduet bersama Sting menyanyikan lagu Whenever I Call Your Name yang di dalam album Sacred Love dinyanyikan secara duet oleh Sting dan Mary J.Blige .

Intro dari Every little thing she does is magic tidak mengubah posisi duduk mayoritas penonton, saya berkeluh, sebenarnya lagu apa yang mereka ingin dengar di konser ini.Sampai pada refrain lagu tersebut, penonton mulai berdiri,itu pun karena ajakan Sting & 2 orang back up vocalist nya.Sungguh mengecewakan ketika produk yang sekampung dengan Sting,TopMan& TopShop menjadi item yang digemari di KL!!

Penonton kemudian duduk kembali setelah lagu berakhir,kemudian lagu Roxanne dibawakan dengan gaya musikalitas yang luar biasa,Sting mengajkak kita dengan wahana musiknya ketika bersama Stewart Copeland dan Andy Summers, Phoenix Jazz Band, dan River City Jazzmen. Lagu keempat belas ini dijadikan sebagai lagu penutup semu.

Setelah melewati ritual penonton meminta tambahan lagu, Sting menyanyikan Desert Rose,lagu yang terkenal dengan bukti penonton mulai menikmati sambil berdiri dan menyanyi bersama lagu ini. If I ever lose my faith in you yang dinyanyikan kemudian hanya membuat tetap berdiri meskipun penonton kurang mengenal lagu ini.

Tidak menjadi terkejut, karena lagu yang membuat hampir semua penonton menyanyi adalah Every breathe you take.Lagu yang menjadi penghasilan tambahan bagi Sting karena royalty lagu ini adalah US$2.000 per hari menurut Internet Movie Database.

Seperti karya karyanya yang hebat dan sudah banyak memenangkan Grammy, termasuk nominasi untuk Grammy tahun ini, tidak ketinggalan Emmys,dan Golden Globe, Sting juga sangat hebat menutup konsernya dengan memnyanyikan lagu A thousand years. Kepuasaan yang sama mungkin didapat oleh seorang fashionista ketika melengkapi koleksi Spring Summer 2005 dengan Pharrell’s LV Spectacles.

Penonton dengan tertib keluar sambil berjalan cepat karena konser yang berlangsung selama lebih kurang 2 jam menunjuk pada jam 23.00,sedangkan transportasi publik akan segera tutup. Saya dan banyak orang sangat beruntung masih bisa pulang.

Di perjalanan pulang saya mulai menulis tulisan ini dan berharap saya bisa memiliki kesempatan menonton peran Sting dalam The Threepenny Opera, atau saya memilki kesempatan belajar ayahuasca, dan bercerita pada seorang teman penulis yang sibuk bekerja di sebuah advertising yang memilki fantasi bersama ayah dari Joseph, Fuchsia, Mickey, Jake, Coco dan Giacomo.

Jona 80-an - Pet Shop Boys, Sting, & DuranDuran

Pemakaiaan huruf J pada kata Zona diatas adalah salah satu bukti kecacatan congor saya yang terabadikan ketika pada sebuah perjalanan di Klaten menuju Solo, saya menyebut kata MTV Party Zone dengan lafal MTV Party Jone. Seketika Mba Noni mencela saya sepanjang perjalanan.

Kembali ke makna judul adalah kata yang diambil dari sms yang datang dari Kiki: " jangan lupa tonton Zona 80 (Metro TV) minggu ini!Bintang tamunya Tujuh Bintang"


Saat ini acara tersebut adalah acara kesayangan saya dan Kiki, sahabat, backup vokal 4 Mata dan vokalis KSP menjadi host band disana.

Tujuh bintang adalah sebuah kelompok vokal dadakan ketika demam Live Aid melanda diseluruh dunia di dekade 80an. Kelompok ini terdiri dari Trie Utami, Malyda, Atiek CB, Mus Mujiono, Yopie Latul, Dedy Dhukun, dan Fariz RM. Selengkapnya buka http://indolawas.blogspot.com/


Alhasil, Minggu 6 April 2008 saya melewatkannya karena ketiduran. Entah kapan diulang lagi episode yang dinantikan ini.

Tapi sesumbar nuansa 80an dua minggu terakhir cukup terasa dengan rencana konser Duran Duran di Jakarta. Mudah-mudahan saya bisa merasakan konser mereka untuk kedua kalinya dan melengkapi konser-konser bintang 80an yang melengkapi masa puber saya. Meskipun jumlahnya baru tiga tapi saya akan kembali mengenangnya, dimulai dari Konser Pet Shop Boys, Konser Sting, dan Konser Duran-Duran.

Pet Shop Boys & Disco Fundamentalis

“Pet Shop Boys Rayakan HUT RI di Bali”, itulah headline sebuah email berlangganan yang saya terima 22 Juni 2007 lalu. Saya sangat antusias membaca emailnya, karena bagi saya konser Pet Shop Boys menjadi salah satu dalam daftar konser wajib tonton.

Seketika emailnya saya forward, kemudian saya dan beberapa teman merencanakan untuk menonton bersama konsernya. Tapi awal Juli 2007, mereka membatalkan konsernya, Sedihh&kecewa!! Berita tersebut saya dapatkan dari situs petshopboysonline.net. Kekecewaan tersebut terobati ketika situs yang sama menyebutkan 8 Agustus 2007, Pet Shop Boys akan konser di Singapura, sebelum mereka mengadakan konser di Summer Sonic Festival di Jepang.

Pet Shop Boys here I come !!

Persiapan dadakan langsung saya lakukan. Saya memesan tiket di sistic.com.sg. Konser Pet Shop Boys ini menjadi bagian dari Sing Fest, festival musik yang diadakan dua hari di sebuah taman kota di Fort Canning. Pet Shop Boys tampil sebagai penutup konser di hari pertama, sebelumnya Shaggy, Sugar Ray dan Cyndi Lauper memanaskan panggung pertunjukan hari pertama Singfest.

Pet Shop Boys tampil setengah 12 malam waktu Singapura. Persiapan sekitar satu jam dibutuhkan memasang lampu dan layar putih untuk menampilkan visual grafis. Meskipun harus menunggu selama persiapan panggungnya, tapi seorang dj local menghibur penonton dengan lagu lagu elektronik dan new wave 80an.

Pertunjukan dimulai dengan permainan lampu dan visual grafis dengan intro lagu Left it to my device. Diawali dengan formasi ger
ak jalan, Neil Tennant & Chris Lowe muncul dan dibuntuti oleh penari latar. Masing masing memakai kostum yang berbeda. Neil memakai setelan jas penguin warna hitam, lengkap dengan topi borjuis nya. Sedangkan Chris memakai hoodie sweatshirt warna hijau neon dan tidak ketinggalan topi dan kaca mata buggles yang menjadi trademark nya. Suburbia menjadi lagu berikutnya yang dilengkapi gambar visual daerah pinggiran kota di Eropa yang menjadi inspirasi lagu ini. Gambar gambar tersebut membuat musik mereka lebih terartikulasi.

Isu seksual selalu mengiringi karir bermusik Pet Shop Boys,. Karena lirik lagu yang mereka buat. Memunculkan banyak arti dan kontroversi. Salah satu lagunya, Can you forgive her menjadi lagu ketiga. Kemudian diakhir lagu Neil mengucapkan kata pembuka, menyambut penonton dan memperkenalkan diri
mereka sebagai Pet Shop Boys. Kemudian gambar visual seperti garis font calculator bermunculan mengikuti beat lagu yang dimainkan, sampai akhirnya lampu neon mulai menyala menyerupai sebuah bingkai layar super lebar. Gambar visual tadi akhirnya membentuk kata Minimal yang adalah judul lagu yang sedang dinyanyikan. Lagu ini diambil dari album terbaru sekaligus keenambelas, Fundamental yang dirilis tahun lalu


Duo synthpop ini menghadirkan konser yang sangat stylish, seperti penggunaan kostum yang sinergis dan up to trend. Kostum mer
eka ditangani salah satunya oleh Yohji Yamamoto dengan produk Y3 yang menggunakan warna hitam, putih, dan warna-warna neon yang sangat futuristic urban “hari begini”. Selain Neil & Chrish, penari latar & penyanyi latar mereka pun didandani pol-polan. Semuanya sangat seragam, tapi tidak membosankan. Konser semakin tambah seru ketika Shopping dinyanyikan. Kemudian lagu Heart, Opportunities, dan Numb dinyanyikan berturut turut oleh Neil Tenant yang baru berulang tahun ke 53, tepatnya 10 Juli lalu.

Satu satunya lagu yang dinyanyikan oleh Chris Lowe yang selama konser selalu berada di belakang keyboard dan midi adalah Parinaro. Lagu yang menceritakan kehidupan subkultur anak muda di Italia yang disebut Parinari yang banyak menentukan trend dunia dalam gaya hidup, dan fashion. Lirik utama lagu ini hanya terdiri dari delapan kata yang diulang ulang yaitu “Passion and Love and Sex and Money, Violence, Religion, Injustice and Death”

Setelah lagu bertema “pemberontakan”, Pet Shop Boys menghadirkan nuansa musim panas dengan irama Se A Vida E yang didukung dengan gambar grafis matahari di musim panas. Lagu ini di rmedley dengan lagu favorit saya Domino Dancing yang sedikit berirama latin. Kegembiraan mulai memuncak karena lagu yang dinyanyikan berikutnya adalah Always on my mind. Lagu yang lebih sa
ya kenal dinyanyikan oleh Pet Shop Boys dibandingkan dengan penyanyi aslinya, sang legenda Elvis Presley. Penonton menikmati lagu ini sambil bernyanyi bersama dan tidak lupa bergoyang seadanya karena berdesakan. Lagu ketigabelas adalah lagu remake dari U2, Where the Streets Have No Name (Can’t Take My Eyes of You). Lagu ini dibawakan dengan koreografi dan kostum warna wani dengan bunga bunga bertebaran seperti parade parade Carnaval di Rio,Brazil.

Selain pemberontakan terhadap norma, kritik sosial sering menjadi tema lagu Pet Shop Boys. Salah satunya lagu West End Girls yang terinspirasi dari daerah di London yang dikenal dengan kelompok Borjuis, Cosmopolitan dan Materialistic. Sedangkan sebagian besar kelompok menengah dan pekerja tinggal di East End. Lagu ini juga menginspirasi lagu Jump dari Madonna. Kritik terhadap politik dunia yang cenderung memilih peperangan ditunjukan dengan koreografi dan kostum militer yang dihiasi pin warna warni ‘happy face” yang mengiringi lagu So Hard dan Sodom & The Sodom and Gomorrah Show. Mengutip interview Neil Tenant dengan situs www.fridae.com yang menyebutkan “We don't do a conventional sort of rock show. We're interested in theatre; we like the look and feel of theatre. Every time we do a show, we work with a theatre designer; this time we're working with Es Devlin, she's a well-known opera designer in London. Pet Shop Boys have worked hard over the last 30-odd years to design a kind of pop music theatre, which is the show we're bringing to Singapore”.

Intro lagu It’s a Sin berkumandang, kemudian Neil mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal. Lagu yang ditulis oleh Chris dan Neil ini menjadi the best-selling European single di tahun 1987 sekaligus membuat Amerika Serikat mencintai duo ini. Penonton tidak puas ketika Neil mulai silam diikuti oleh penari dan penyanyi latarnya meninggalkan Chris sendirian di belakang keyboard dan midinya. Seiring dengan lampu yang mulai meredup, Chris pun ikut menyusul silam. Tapi penonton tidak ikut silam menuju rumah, tapi tetap antusias karena lagu lagu favorit mereka masih ada yang belum dinyanyikan, akhirnya aksi meminta lebih dilakukan, and the story goes happily ever after. Go West kemudian penonton pun bernyanyi bersama. Di akhir lagu mereka memberikan salam perpisahan dan menyesal harus menyudahi konser malam itu karena jam sudah menunjukan pukul 1 pagi. Inilah konser paling larut yang pernah saya tonton sekaligus membuat saya larut kebahagiaan dalam kenangan mendengarkan Pet Shop Boys di era 90an karena malu ketika semua orang mendengarkan grunge music.


Pet Shop Boys juga berbagi kesenangan untuk anda yang belum berkesempatan menonton konser mereka, dengan mengeluarkan DVD Live Concert mereka yang berjudul"Cubism" yang dilengkapi oleh dokumentari "Pet Shop Boys in Mexico". DVD ini disutradarai oleh David Barnard yang menjadi sutradara konser Björk and Gorillaz. Mari berbagi kesenangan mendengarkan, menonton, menari, memberontak, dan menyayangi duo langka Pet Shop Boys...Happy Dancing!!


Senin, 10 Maret 2008

Konser Awal Tahun 2008

3. Java Jazz

“Udah lah Ben, ikut aja !! Daripada nanti mereka keburu mati, kan nyesel gak nonton taun ini, kayak James Brown ?” tukas Mba Uci KSP/ Café Halaman.
Itulah quote yang sedikit membuat saya mau menonton perhelatan (biar nampak akbar) Jazz terbesar di dunia-tagline itu disebut berulang ulang kali oleh MC panggung disana.

Alhamdulillah saya mendapat tiket gratis dari teman teman yang berbaik hati membagikannya.
Jumat, 7 Maret saya mempersiapkan untuk menonton Matt Bianco, Renee Olstead & Ron King Big Band, Andezz, Pandji Pragiwaksono ( Hip Hop Indo Special Project). Keterbatasan ini saya harus tanggung karena saya baru bisa datang jam 5 sore.

Hari pertama, saya berencana datang bersama Kiki, sahabat saya yang bersemangat menikmati musik2 di Java Jazz – berhubung dia penyanyi dan aktris pendukung di acara Tukul Trans 7. Alhasil saya datang jam setengah 7 karena Kiki salah membawa amplop yang berisi tiket konser. Kita harus kembali ke daerah Mampang, padahal kita sudah berada di Senayan. Untungnya saya tidak terlalu bersemangat, kejadian itu tidak membuat saya kesal tak kepuguhan. Lain soal kalo kita berdua bersemangat, pasti dia akan saya bikin kesel sepanjang perjalanan. Meskipun long weekend, jalan-jalan tetap saja padat. Sambil curhat di dalam taksi, tak terasa kita sudah sampai kembali ke Senayan.

Pangung pertama yang saya datangi adalah Femina Lounge, karena saya harus bertemu dengan Claudia Lengkey. Tempatnya sangat nyaman, lengkap dengan pelayanan gratis foot acupressure, facial, dll. Sebelum keluar lounge, saya dibekalli sekotak donut dan 1 botol Aqua. Seperti keluar dari hajatan kampung yang dibekali nasi besek.

Kemudian saya melanjutkan ke Medco Stage karena Renee Olstead & Ron King Big Band akan manggung. Sesampainya, Phuhhhhh penonton penuh sesak, akhirnya saya memilih mendengarkan tepat di pintu gerbang, dan hanya bisa melihat kepala Gadis Yang Insya Allah akan 20 Tahun itu. Sepertinya animo penonton kurang seimbang dengan kapasitas ruangannya. Saya hanya bertahan 10 menit. Meskipun saya tidak hapal cangkem lagu lagunya. Tapi saya sudah berniat mendengarkan presentasi pertunjukan musik mereka.

Saya menlanjutkan pencarian ke Cendrawasih Room tempat Andezz akan manggung. Sepanjang lobby, saya bertemu teman teman yang semangat dan ramah untuk tetap menyapa, meskipun membuat traffic tersendat. Ditambah dengan booth sponsor yang mengahalangi traffic.
Saya memutuskan untuk berdiri mendekati panggung karena Andezz menghadirkan konsep Departure People dengan seragam Pilot & Pramugari ditambah Big Girl Backing Vocal Choir. MenariK!!

Tapi soundsystem kurang mendukung. Sayang sekali. Tapi saya bisa memaklumi, meskipun musik yang dibawakan Andezz akan sangat menghentak apabila didukung dengan soundsytem & lighting yang pas.

Sambil menunggu di panggung yang sama penampilan Panji Pragiwaksono yang mengeluarakn album Maret ini, saya merokok di sekitar luar panggung yang terasa sangat dingin sambil ngobrol dengan topic:

Gaya apa yang paling banyak dipilih yang nonton Java Jazz tahun ini:

Pilihan A. Motif kotak kotak.

Pilihan B. Batik

Untuk Batik, sepertinya Bang Edo Hutabarat- yang juga hadir menonton, harus diberikan penghargaan oleh Java Jazz, karena mampu membuat Batik menjadi sangat melesap dalam konser bernuansa musik ini.

Long Live Bang Edo !!

Akhirnya Panji P Manggung juga….alhasil begitulah !! lagi lagi soundsytem nya kurang mendukung. Padahal session ini sangat penuh semangat.

Kesal dengan ketiga penampilan yang kurang didukung oleh soundsystem yang kurang, akhirnya saya memutuskan pulang dan melanjutkan ke Misch Masch “ Booty Bass Edition”. Semangat & berhasil membuat saya bisa menikmati musik dengan hentakan dan soundsystem yang berakhir memuaskan.

Hari kedua, saya berniat menonton Jody Watley, The Manhattan Transfer, Maysa Leak, Bobby Caldwell. Kenyataannya saya baru bisa datang jam 8malam, Jody watley pun terleatkan…………Bingung kemudian, karena prioritas hari itu menonton penyanyi All begins with you.

Saya akhirnya menonton Manhattan Transfer. Berharap bisa terhibur. Yang ada saya kecewa dengan soundsystem. Daripada kepalang kesal, saya, Kiki & Mba Uci mencoba menikmati suara kakek-nenek yang seadanya dari tribun. Saya tak mau kalah saing dengan kualitas sound system yang sepertinya terbiasa mereka gunakan untuk tempat pertunjukan kecil bukan seukuran plenary JCC.

Saya menutup mata saya, meskipun kelopak mata tetap terbelalak.
Kembali ke era 90an, saya mendengarkan radio Kontinental 107,2 di Bandung sekitar jam 2 siang. Nikmatnya mendengarkan Tim Hauser, Janies Siegel,Cheryl Bentyne dan Alan Paul.
Suara radio mono tapi tetap meghibur. Terkadang keterbatasan membuat kekurangan menjadi bagian keindahan atau kemerduan.
Begitulah saya mencoba menikmati konser kelompok yang telah memenangkan 10 Grammy.

Berikut playlist
Manhattan Transfer
1.Birdland  Terdengar sayup sayup
2.On Boulevard  masih sama dengan atas
3.Hear The Voices Sedikit membaik
4.Route '66  Lumayan,stagnan perbaikan soundsystemnya sampai lagu ke 12
5.Candy
6.Java Jive
7.New Juju Man (Tutu)
8.Smile Again
9.Soulfood To Go
10.Boys From New York City
11.Twilight Zone/Twilight Tone
12.Tuxedo Junction

Rasa kecewa tidak membuat saya menghentikan perjalanan berikutnya menonton Bobby Caldwell. Berusaha positif, Kakek ini juga akan tampil memukau dengan suara khas, tuxedo, topi, dan poni lemparnya.

Diperlukan mengantri selama 1 setengah jam, mulaid ari jam 11 malam kurang, sampai kira-kira saya sudah malas melihat jam. Saya bersyukur tidak bearada diantrian penonton yang craving for BC. Mereka harus berkorban begitu lama. Kasian ibu-ibu atau tante-tante yang mengantri. Saya masih bias selonjoran bersender ke dinding tembok, sambil ngemil. Mereka yang berdiri, saya yakini pulang harus tidur dengan posisi kakai diganjal bantal dan lebih tinggi dari kepala.Yang terburuk mungkin parises.

Pintu dibuka, hanya perlu 5 lagu saya bertahan. Sound systemnya, bagus lah- ini sudah di upgrade penilainya karena sebenarnya ya gitu deh adanya !!

Heart Of Mine, Real Thing, What You Won’t Do For Love, hits radio yang dinyanyikan bersama penonton dengan suara BC yang sudah terengah engah dan sering berhenti di tengah kalimat.
Yang sempurna hanyalah kostum tuxedo dan poni lemparnya.

Pulang yoK!
Itulah saya, kurang mengerti musik Jazz – hanya sekedar. Tapi saya merasa yakin berhak menikmati pertunjukan dengan soundsystem baik meskipun saya gratis menontonnya.

Saya ingin meyakinkan pendengaran saya ini apakah hanyalah masalah pribadi atau media juga memberitakan hal yang sama untuk literasi pembacanya.
Alhasil, hampir semua media tidak memberitakan bahwa soundsytem pertunjukan sangat kurang. Semuanya lebih membahas kepiawaian kakek-nenek ini dalam menampilkan komposisi suara. Mungkin alasan yang paling bias diterima adalah karena salah saya duduk di tribun dengan tiket gratis selama tiga hari, dan kurang menghargai pentingnya berada di paling depan panggung. Alhamdulillah lah, sudah bias wara-wiri eksis di Java Jazz.

Hari ketiga, saya memutuskan di rumah saja. Batal menuju Java Jazz karena kurang siap mental dan kesehatan fisik menurun karenanya. Bubye Fatso Babyface !

Konser Awal Tahun 2008

2. Incubus
Band yang dulu saya kenal pertama kali dari band Marcell terdahulu, Experimental Jetset yang sering membawakan lagu Incubus dari album Enjoy Incubus dan SCIENCE, tapi band ini belum matil buat banyak pendengar. Tidak banyak yang tahu betapa kharismatiknya Brandon Boyd. Sampai akhirnya meletek di tahun 2000 dengan album Make Yourself.

Di konsernya, Saya hanya bisa mendengar 3, 5 lagu terakhir dari band asal Calabasas, California, yaitu Megalomaniacs di akhir akhir lagu, kemudian Stellar, Circles, Aqueaus Trans.
Macet menjadi alasan utama. Saya menghabiskan waktu 2 jam lebih dari Salemba ke Senayan. Entah kenapa, tapi macet ini bersamaan dengan 40 hari wafatnya Pak Harto.

Berusaha tetap bersyukur, karena bisa melihat seperti apa mereka. Band yang memiliki kesan mendalam karena saya merasa menemukan mereka dengan hits I Miss You dari album Make Yourself. Meskipun single resmi mereka yang dirilis sekitar October 1999 adalah Drive, kemudian Stellar.
Berawal dari penasaran dengan album mereka yang pada saat itu masih diimport.
Pertama kali didengarkan di library kecil Hard Rock FM Jakarta. Disebelah saya ada Meita Kasim, Music Director Hard Rock FM tahun 2000an awal.
Karena saya sedang training untuk jadi Music Director di Bandung.
Tiba tiba album ini sangat menarik didengar. Saya merasa albumnya sangat modern. Meskipun Drive sudah diputar di Jakarta & Bandung. Saya harus menemukan single berikutnya yang saya rasa lebih bias nyantol.
Tiba tiba looping intro I Miss You menaksir saya….

Seminggu kemudian saya nekat memasukan lagu tersebut saya jadikan playlist regular dengan durasi pemutaran 5x perhari.
Thk you for Mba Reina Wulandari & Mas Willy Priyoko)

Reaksi yang muncul adalah, penyiar sangat bosan mendengar lagu itu dalam seminggu. Tapi saya tetap teguh, bahwa inilah momen Incubus.
Keyakinan itulah yang membuat saya bisa tersenyum ketika mendengar single ini diputar di radio dimana pun dan kapan pun.
Sampai akhirnya semua album Incubus dirilis di pasaran secara resmi oleh Sony Music.

xOxO bOyD

BZ

Konser Awal Tahun 2008

Februari 2008 merupakan awal tahun yang baik buat penyelengaraan konser musik di Indonesia, meskipun konser musik underground mengalami kejadian buruk pada . Underground Berkabung, itulah yang menjadi tema yang diangkat oleh sekelompok penggerak muda di Bandung . Berselang kejadian tersebut, Rolling Stone Indonesia mengeluarkan edisi khusu berjudul : Petaka Pentas Musik Indonesia . Sebuah saluran dokumentasi yang baik, asal jangan sampai petaka musik dijadikan isu alihan untuk isu penting saat ini seperti pengangguran, korupsi, kejahatan, loyonya penegakan hukum, dll

Selanjutnya Februari – Maret 2008 menjadi ajang konser musisi idola saya dan konser musik salah satu ajang eksis pergaulan tahun ini. Saya urutkan dalan penomoran.

1.Bjork.
Dalam tulisan ini saya coba buktikan bahawa saya adalah salah satu penggemar setia penyanyi ini. Perasaan membuncah ketika mendengar dia akan dating ke Jakarta . Saya hanya bisa memastikan diri saya untuk tetap positif dia jadi dating. Bjork adalah satu satunya konser musik yang berhasil membuat saya membeli tiket seharga Rp. 600.000.
Saya sudah menyaipakan mental, apapun yang terjadi saya harus bersyukur. Dia adalah penyanyi wanita yang membuat saya tidak merasa aneh diantara teman teman saat SMA dan Grunge menggila
Meskipun internet belum hadir saat album pertamanya, tapi saya berusaha mencari tahu informasinya melalui majalah majalah backdated yang dijual di Cikapundung. Hal itu dilakukan karena saya belum mampu membeli majlah import baru. Pada saat itu pun saya hanya membeli kasetnya yang tidak pernah lepas dari Radiotape Sony (Compo).
Tepat 12 Februari, Saya tak perlu banyak persiapan untuk menonton konsernya. Yang terpenting handuk kecil, karena saya merasa saya akan menangis bahagia ketika Bjork menyanyi di salah satu lagunya. Saya yakin itu, meskipun tidak tahu di lagu yang mana.
Saya berangkat tepat pukul 4 sore di tengah Jakarta yang diguyur hujan. Seperti dapat diduga, macet mulai terjadi di beberapa titik, teritama Semanggi- Senayan. Beruntung ditemani Mas Tedjo yang dating dari Bandung 2 hari sebelumnya. Alhasil saya sampai pukul 5 sore, padahal biasanya saya ahnya perlu 15 menit ke Senayan.
Meskipun sedikit kesal karena dipastikan saya tidak akan menjadi pengantri pertama, tapi tetap berusaha semangat . Saya berdiri diantara sekitar 15 orang pertama di antrian. Kemudian, salah seorang sahabat saya, Piere dating bergabung. Alhamdulillah. Tak perlu kesal menunggu untuk konser ibu dari Sindri ini. Saya habiskan dengan mengeker mereka yang menonton konser. Mulai dari dandanan gembel bersendal jepit yang adalah gaya yang saya pilih, gaya hippies, bohemia, ectrified, theme shirts, sampai ada seorang perempuan muda bernama Tatis memakai gaun angsa Bjork tiruan di pesta Oscar. Sangat tidak membuat bosan menunggu. Sampai akhirnya jam 6an kita dperbolehkan masuk Tennis Indoor. Saya berdiri dibelakang Tatis yang tepat berada dibelakang barikade, 2 meter dari posisi centre panggung. Gosip! Adalah obat ampuh sambil menunggu, saya, Mas Tedjo, dan Piere berdiskusi mulai dari identitas, ekspolarsi musik, eksistensi, sambil hunting yang nonton konser, tidak ketinggalan topic seputar mantan yang kebetulan dating juga.

Akhirnya konser dimulai pukul sekitar 20.50. Seperti apakah konsernya?
Dari beberapa review konser di media massa , akhirnya saya memilih tulisan di majalah Gadis. Menurut saya, tulisannya sangat sederhana meskipun terdapat beberapa kekurangan data, dan tidak berlebihan, juga dekat dengan saya sebagai pembaca yang adalah bukan pembaca Gadis sama sekali.

I love the Innocence ( this is dedicated for Yani Lauwoie )

Aksi Spektakuler Bjork
By: Yani Lauwoie
Gaya unik dan eksentrik penyanyi asal Islandia, Bjoek bukan Cuma ‘isapan jempol’ ! Di konser Bjork “ the Tour yang dipromotori oleh Java Musikindo di tennis Indoor Senayan, Jakarta pada 12 Februari lalu, Gadis membuktikannya sebndiri!

Adaaa saja penampilan dan aksi panggungnya yang bisa bikin orang tercengang dan berkata, “ kok, bisa, ya, dia kepikiran itu?”

Tour yang dipromotori oleh Java Musikindo di Tennis Indoor Senayan, Jakarta pada 12 Februari lalu, Gadis membuktikannya sendiri! Adaaa saja penampilan dan aksi panggungnya yang bisa bikin orang tercengang dan berkata, “ kok bisa ya, dia kepikiran itu?”
Full Bendera Memasuki ruangan konser, mata penonton langsung disuguhi tatanan panggung yang ramai. Yap ! Dibandingkan denagn tata panggung musisi mancanegara yang sudah pernah menggelar konsernya di Indonesia, tata panggung konser Bjork malam itu terlihat lebih special dan sengaja banget dihiasi secara lebih khusus ! Banyak atribut bendera berwarna warni dengan gambar hewan-hewan seperti ikan dan burung yang dipajang sebagai hiasan. Ada yang diletakan sebagai background dan ada yang menempel di semacam tiang bendera yang terletak di kiri-kanan panggung. Belum selesai mata penonton menikmati tata panggung yang lumayan ramai itu, lampu tiba-tiba meredup, tanda pertunjukan dimulai. Lagi lagi penonton tercengang dengan suara suara instrument yang sayup sayup terdengar dilanjutkan dengan iringan Wonder Brass yang terdiri dari pemain terompet, Tuba, Mellophone,, dan alat tiup lainnya. Uniknya lagi, selain memakai kostum warna-warni dengan warna kuning sebagai warna dominan, para pemain intsrumen brass yang berada di kanan panggung, mengenakan bendera yang menempel di belakang tubuh mereka, lho. Benar-benar penuh bendera, deh !

Pelit Basa-basi

Bjork menyusul masuk ke panggung dan langsung bergerak gerak dengan lincah mengikuti irama musik. Tanpa basa-basi, Bjork menyanyikan Earth Intruders yang langsung disambung oleh Hunter. Di akhir lagu, kejutan datang lagi saat tiba tiba saja Bjork dari tangannya dikeluarkan properti panggungnya yang terbuat dari tali panjang. Mengikuti aliran musik yang ‘mistis’, Bjork seperti siap menyihir semua penonton dengan aktingnya ini. Abis, gaya membuka telapak tangannya itu kayak gaya penyihir yangs edang mengucapkan mantra, soh !! Wuzzz…. Atraksi tak terduga seperti, memang salah satu yang bsia diharapkan dari tiap performance-nya. Lepas dari atraksi tali, Bjork melanjutkan dengan single Unravel, All Is Full Love, dan Joga. Sampai lagu keenamnya, nggak ada kata kata yang keluar dari bibir Bjork. Cuma kata, Thank you, yang diucapkannya dengan logat Inggris yang aneh. Meskpun begitu, penonton tetap terlihat antusias dan selalu memberikan applause tiap kali Bjork selesai menyanyikan lagu. Malam itu, entah penggemar setia Bjork atau bukan, memang jadi seperti ahli musik eksperimen yang ditawarkan cewek yang pernah datang ke Aceh ini. Semuanya sibuk bertepuk tangan setelah Bjork sukses menyanyikan lagu-lagu hitsnya dari album sebelumnya. Lighting Keren Pelit basa-basi bukan berarti minim atraksi. Selain atraksi tali, atraksi lighting adalah salah satu yang menambah nilai plus konser ini. Misalnya saja, saat menyanyikan Joga, di tengah lagu, perhatian penonton langsung terfokus pada permainan lagu berwarna laser hijau yang menyorot langsung ke arah depan panggung. Begitu juga saat menyanyikan Hyperballad dan Pluto, permainan lampu ini berhasil bikin penonton nggak tahan untuk memberikan applause. Seperti sudah hapal di luar kepala sama script tata lampunya, Bjork sukses melakukan gerakan mengangkat tangan sesuai dengan waktu lampu laser hijau menyala. Pokoknya, seperti melihat pertunjukan drama. Di lagu Desired Constellation, panggung meredup dan terlihatlah cahaya yang bersumber dari kening Bjork dan Wonder Brass. Rupanya mereka semua memakai semacam ikat kepala yang bisa menyala dalam setiap gelap alias glow in the dark. Ditambah lagi, aksi salah seorang personil bandnya. (Bjork menyebutnya sebagai music director) dengan alat terbarunya. Alat yang terlihat sangat digitalized ini bukan hanya bisa menghasilkan suara paling canggih di zaman ini, tapi juga jadi hiburan menarik dengan gambar semacam grafik dan aliran listrik yang bisa juga dilihat di big screen. Jelas banget kan , kalau aksi panggung penyanyi kelahiran 21 November 1965 ini benar benar dipersiapkan dengan matang.

Pakai Trik Lama Juga

Puas menyuguhkan berbagai atraksi dan menyanyikan nggak kurang dari 16 buah lagu, Bjork ternyata masih tertarik juga melakukan trik lama para musisi, yaitu melakukan encore; menghilang ke balik panggung, seolah olah konser sudah selesai. Tapi, penonton yang rupanya sudah hapal banget dengan trik tersebut, tetap diam di tempat dan berteriak teriak we want more berkali kali.

Bjork beserta Wonder Brass dan band nya yang berjumlah 15 orang akhirnya kembali ke atas panggung. “ Thank you, I’m sorry, I don’t speak your language and you don’t speak our either. Your country is beautiful. Thank you”, ucap Bjork yang akhirnya ngomong juga. Setelah itu, dia pun memperkenalkan band dan Wonder Brass-nya seusai perkenalan, Bjork kembali melantunkan dua buah lagu, yaitu Anchor Song dan Declare Independence .Di lagu terakhir ini, para personil Wonder Brass melepas bendera yang tadinya menempel di belakang tubuhnya dan mengacung-acungkan bendera tersebut saat Bjork melantunkan bait .” Raise your flag! Raise your flag!” Lagu yang diambil dari album terbarunya, Volta , menjadi lagu penutup konser malam itu. Kualitas vkal, performance dan atraksi yang tak terduga membuktikan kalau Bjork benar-benar penyanyi kualitas internasional. Spektakuler abis!.


Ada beberapa kekurangan data yang saya harus tambahakan

Nama instrumen elektronik yang dipakai MarK Bell sebagai music director adalah : The reacTable is an electro-acoustic music instrument with a tabletop Tangible User Interface that has been developed within the Music Technology Group at the Universitat Pompeu Fabra in Barcelona, Spain by Sergi Jordà, Marcos Alonso, Martin Kaltenbrunner and Günter Geiger ( wikipedia.org)


When Bjork did the encore then said “ Thank you, I’m sorry, I don’t speak your language and you don’t speak our either. Your country is beautiful. Thank you”

Seharusnya “ Thank you, I’m sorry, I don’t speak your language and you could speak our language. Your country is beautiful. Thank you”

Bjork berkata seperti itu karena seorang penonton wanita terus berteriak I Love you dalam bahasa Islandia dan sambil mengangkat kertas bertuliskan Ég elska Þig

Saya menangis!! Tepat di lagu Declare Independence . Saya tidak menyangka lagu yang videoklip nya dibuat oleh sutradara langganan Bjork, Stephen Gondry, membawa vibe yang begitu besar. Apa yang membuat Bjork bisa begitu bergairah menyanyikan lagu ini. Seperti terdapat sebuah kekhawatiran dan perhatian yang besar untuk tetap menjaga siapa kita sebenarnya, jangan pernah dijajah! Saat lagu ini juga, Tatis dkk mengeluarkan bendera Merah Putih. There’re the real Bjork fans. Saya hanya bisa menangis tersenyum melihat dan merasakan kejadian yang belum tentu saya dapatkan.

Seperti liriknya yang berkata :

Raise your flag! Declare independence! Don't let them do that to you! Declare independence! Don't let them do that to you! Damn colonists Ignore their patronizing Tear off their blindfolds Open their eyes

Controversy (wikipedia.org)

Björk has used live performances of "Declare Independence" to declare political support for various causes, often to some controversy. At two concerts in Toyko, Japan she showed her support for Kosovo's declaration of independence. This was negatively reported in the press in Serbia, resulting in the cancellation of her then upcoming performance at the 2008 Serbian EXIT Festival. Björk later released a statement through Icelandic newspaper Morgunblaðið, saying that "Maybe a Serb attended my concert [in Tokyo] and called home, and therefore the concert in Novi Sad was cancelled.

On March 3, 2008 the organiser behind the EXIT Festival released a press statement saying that Björk's cancellation from the festival was not because of her song dedication to Kosovo per se, but their inability to guarantee security for festivalgoers.[On March 4, 2008 Björk's management released a statement to NME stating that EXIT Festival were misleading in saying that Björk's support of Kosovo was not behind their concert cancellation, stating that they had emailed Björk's management saying that "We hope Björk does not relate to Kosovo on other concerts here in Europe, nor in her interviews, because if she does we need to cancel the concert".The statement also showed that EXIT Festival would only allow the concert to go ahead if Björk's management "denied that Björk has ever done this".

At a concert in Shanghai, China on March 2, 2008 Björk shouted "Tibet, Tibet!" three times followed by "Raise your flag!" during the finale performance of "Declare Independence". Björk's comments were not initially reported in the state-controlled media, but online sites such as Tianya fielded many negative comments on her statementThe story was subsequently picked up by international news wires.[27] There was reportedly no booing after her statement but there was an 'uneasy atmosphere' and fans left the venue quickly. A spokesperson for Emma Entertainment (the leading ticketing company in China) pleaded ignorance of Björk's actions and refused further comment.Sanctions are likely to be imposed on the organisers by the state censorship body, and it remains unlikely that Björk will be able to visit China again in the near future.A spokesperson for the Free Tibet Movement said the group was delighted by Björk's remarks, contrasting them with Gordon Brown and David Miliband's "shameful" decision not to raise the issue publicly on their recent visits to Beijing. Björk performed at the Tibetan Freedom Concert in 1996 and 1997. On March 4, 2008 Björk released an official statement on her website regarding the two incidents.The website is now blocked in China. Björk's dedicating of "Declare Independence" to the Faroe Islands caused some minor controversy in the country.During the Australian leg of her tour, as part of the 2008 Big Day Out, the song was dedicated to the Aboriginal People of Australia.

Takk fyrir

BZ