Pemakaiaan huruf J pada kata Zona diatas adalah salah satu bukti kecacatan congor saya yang terabadikan ketika pada sebuah perjalanan di Klaten menuju Solo, saya menyebut kata MTV Party Zone dengan lafal MTV Party Jone. Seketika Mba Noni mencela saya sepanjang perjalanan.
Kembali ke makna judul adalah kata yang diambil dari sms yang datang dari Kiki: " jangan lupa tonton Zona 80 (Metro TV) minggu ini!Bintang tamunya Tujuh Bintang"
Saat ini acara tersebut adalah acara kesayangan saya dan Kiki, sahabat, backup vokal 4 Mata dan vokalis KSP menjadi host band disana.
Tujuh bintang adalah sebuah kelompok vokal dadakan ketika demam Live Aid melanda diseluruh dunia di dekade 80an. Kelompok ini terdiri dari Trie Utami, Malyda, Atiek CB, Mus Mujiono, Yopie Latul, Dedy Dhukun, dan Fariz RM. Selengkapnya buka http://indolawas.blogspot.com/
Alhasil, Minggu 6 April 2008 saya melewatkannya karena ketiduran. Entah kapan diulang lagi episode yang dinantikan ini.
Tapi sesumbar nuansa 80an dua minggu terakhir cukup terasa dengan rencana konser Duran Duran di Jakarta. Mudah-mudahan saya bisa merasakan konser mereka untuk kedua kalinya dan melengkapi konser-konser bintang 80an yang melengkapi masa puber saya. Meskipun jumlahnya baru tiga tapi saya akan kembali mengenangnya, dimulai dari Konser Pet Shop Boys, Konser Sting, dan Konser Duran-Duran.
Pet Shop Boys & Disco Fundamentalis
“Pet Shop Boys Rayakan HUT RI di Bali”, itulah headline sebuah email berlangganan yang saya terima 22 Juni 2007 lalu. Saya sangat antusias membaca emailnya, karena bagi saya konser Pet Shop Boys menjadi salah satu dalam daftar konser wajib tonton.
Seketika emailnya saya forward, kemudian saya dan beberapa teman merencanakan untuk menonton bersama konsernya. Tapi awal Juli 2007, mereka membatalkan konsernya, Sedihh&kecewa!! Berita tersebut saya dapatkan dari situs petshopboysonline.net. Kekecewaan tersebut terobati ketika situs yang sama menyebutkan 8 Agustus 2007, Pet Shop Boys akan konser di Singapura, sebelum mereka mengadakan konser di Summer Sonic Festival di Jepang.
Pet Shop Boys here I come !!
Persiapan dadakan langsung saya lakukan. Saya memesan tiket di sistic.com.sg. Konser Pet Shop Boys ini menjadi bagian dari Sing Fest, festival musik yang diadakan dua hari di sebuah taman kota di Fort Canning. Pet Shop Boys tampil sebagai penutup konser di hari pertama, sebelumnya Shaggy, Sugar Ray dan Cyndi Lauper memanaskan panggung pertunjukan hari pertama Singfest.
Pet Shop Boys tampil setengah 12 malam waktu Singapura. Persiapan sekitar satu jam dibutuhkan memasang lampu dan layar putih untuk menampilkan visual grafis. Meskipun harus menunggu selama persiapan panggungnya, tapi seorang dj local menghibur penonton dengan lagu lagu elektronik dan new wave 80an.
Pertunjukan dimulai dengan permainan lampu dan visual grafis dengan intro lagu Left it to my device. Diawali dengan formasi gerak jalan, Neil Tennant & Chris Lowe muncul dan dibuntuti oleh penari latar. Masing masing memakai kostum yang berbeda. Neil memakai setelan jas penguin warna hitam, lengkap dengan topi borjuis nya. Sedangkan Chris memakai hoodie sweatshirt warna hijau neon dan tidak ketinggalan topi dan kaca mata buggles yang menjadi trademark nya. Suburbia menjadi lagu berikutnya yang dilengkapi gambar visual daerah pinggiran kota di Eropa yang menjadi inspirasi lagu ini. Gambar gambar tersebut membuat musik mereka lebih terartikulasi.
Isu seksual selalu mengiringi karir bermusik Pet Shop Boys,. Karena lirik lagu yang mereka buat. Memunculkan banyak arti dan kontroversi. Salah satu lagunya, Can you forgive her menjadi lagu ketiga. Kemudian diakhir lagu Neil mengucapkan kata pembuka, menyambut penonton dan memperkenalkan diri mereka sebagai Pet Shop Boys. Kemudian gambar visual seperti garis font calculator bermunculan mengikuti beat lagu yang dimainkan, sampai akhirnya lampu neon mulai menyala menyerupai sebuah bingkai layar super lebar. Gambar visual tadi akhirnya membentuk kata Minimal yang adalah judul lagu yang sedang dinyanyikan. Lagu ini diambil dari album terbaru sekaligus keenambelas, Fundamental yang dirilis tahun lalu
Duo synthpop ini menghadirkan konser yang sangat stylish, seperti penggunaan kostum yang sinergis dan up to trend. Kostum mereka ditangani salah satunya oleh Yohji Yamamoto dengan produk Y3 yang menggunakan warna hitam, putih, dan warna-warna neon yang sangat futuristic urban “hari begini”. Selain Neil & Chrish, penari latar & penyanyi latar mereka pun didandani pol-polan. Semuanya sangat seragam, tapi tidak membosankan. Konser semakin tambah seru ketika Shopping dinyanyikan. Kemudian lagu Heart, Opportunities, dan Numb dinyanyikan berturut turut oleh Neil Tenant yang baru berulang tahun ke 53, tepatnya 10 Juli lalu.

Satu satunya lagu yang dinyanyikan oleh Chris Lowe yang selama konser selalu berada di belakang keyboard dan midi adalah Parinaro. Lagu yang menceritakan kehidupan subkultur anak muda di Italia yang disebut Parinari yang banyak menentukan trend dunia dalam gaya hidup, dan fashion. Lirik utama lagu ini hanya terdiri dari delapan kata yang diulang ulang yaitu “Passion and Love and Sex and Money, Violence, Religion, Injustice and Death”
Setelah lagu bertema “pemberontakan”, Pet Shop Boys menghadirkan nuansa musim panas dengan irama Se A Vida E yang didukung dengan gambar grafis matahari di musim panas. Lagu ini di rmedley dengan lagu favorit saya Domino Dancing yang sedikit berirama latin. Kegembiraan mulai memuncak karena lagu yang dinyanyikan berikutnya adalah Always on my mind. Lagu yang lebih saya kenal dinyanyikan oleh Pet Shop Boys dibandingkan dengan penyanyi aslinya, sang legenda Elvis Presley. Penonton menikmati lagu ini sambil bernyanyi bersama dan tidak lupa bergoyang seadanya karena berdesakan. Lagu ketigabelas adalah lagu remake dari U2, Where the Streets Have No Name (Can’t Take My Eyes of You). Lagu ini dibawakan dengan koreografi dan kostum warna wani dengan bunga bunga bertebaran seperti parade parade Carnaval di Rio,Brazil.
Selain pemberontakan terhadap norma, kritik sosial sering menjadi tema lagu Pet Shop Boys. Salah satunya lagu West End Girls yang terinspirasi dari daerah di London yang dikenal dengan kelompok Borjuis, Cosmopolitan dan Materialistic. Sedangkan sebagian besar kelompok menengah dan pekerja tinggal di East End. Lagu ini juga menginspirasi lagu Jump dari Madonna. Kritik terhadap politik dunia yang cenderung memilih peperangan ditunjukan dengan koreografi dan kostum militer yang dihiasi pin warna warni ‘happy face” yang mengiringi lagu So Hard dan Sodom & The Sodom and Gomorrah Show. Mengutip interview Neil Tenant dengan situs www.fridae.com yang menyebutkan “We don't do a conventional sort of rock show. We're interested in theatre; we like the look and feel of theatre. Every time we do a show, we work with a theatre designer; this time we're working with Es Devlin, she's a well-known opera designer in London. Pet Shop Boys have worked hard over the last 30-odd years to design a kind of pop music theatre, which is the show we're bringing to Singapore”.
Intro lagu It’s a Sin berkumandang, kemudian Neil mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal. Lagu yang ditulis oleh Chris dan Neil ini menjadi the best-selling European single di tahun 1987 sekaligus membuat Amerika Serikat mencintai duo ini. Penonton tidak puas ketika Neil mulai silam diikuti oleh penari dan penyanyi latarnya meninggalkan Chris sendirian di belakang keyboard dan midinya. Seiring dengan lampu yang mulai meredup, Chris pun ikut menyusul silam. Tapi penonton tidak ikut silam menuju rumah, tapi tetap antusias karena lagu lagu favorit mereka masih ada yang belum dinyanyikan, akhirnya aksi meminta lebih dilakukan, and the story goes happily ever after. Go West kemudian penonton pun bernyanyi bersama. Di akhir lagu mereka memberikan salam perpisahan dan menyesal harus menyudahi konser malam itu karena jam sudah menunjukan pukul 1 pagi. Inilah konser paling larut yang pernah saya tonton sekaligus membuat saya larut kebahagiaan dalam kenangan mendengarkan Pet Shop Boys di era 90an karena malu ketika semua orang mendengarkan grunge music.
Pet Shop Boys juga berbagi kesenangan untuk anda yang belum berkesempatan menonton konser mereka, dengan mengeluarkan DVD Live Concert mereka yang berjudul"Cubism" yang dilengkapi oleh dokumentari "Pet Shop Boys in Mexico". DVD ini disutradarai oleh David Barnard yang menjadi sutradara konser Björk and Gorillaz. Mari berbagi kesenangan mendengarkan, menonton, menari, memberontak, dan menyayangi duo langka Pet Shop Boys...Happy Dancing!!
Kembali ke makna judul adalah kata yang diambil dari sms yang datang dari Kiki: " jangan lupa tonton Zona 80 (Metro TV) minggu ini!Bintang tamunya Tujuh Bintang"
Saat ini acara tersebut adalah acara kesayangan saya dan Kiki, sahabat, backup vokal 4 Mata dan vokalis KSP menjadi host band disana.
Tujuh bintang adalah sebuah kelompok vokal dadakan ketika demam Live Aid melanda diseluruh dunia di dekade 80an. Kelompok ini terdiri dari Trie Utami, Malyda, Atiek CB, Mus Mujiono, Yopie Latul, Dedy Dhukun, dan Fariz RM. Selengkapnya buka http://indolawas.blogspot.com/
Alhasil, Minggu 6 April 2008 saya melewatkannya karena ketiduran. Entah kapan diulang lagi episode yang dinantikan ini.
Tapi sesumbar nuansa 80an dua minggu terakhir cukup terasa dengan rencana konser Duran Duran di Jakarta. Mudah-mudahan saya bisa merasakan konser mereka untuk kedua kalinya dan melengkapi konser-konser bintang 80an yang melengkapi masa puber saya. Meskipun jumlahnya baru tiga tapi saya akan kembali mengenangnya, dimulai dari Konser Pet Shop Boys, Konser Sting, dan Konser Duran-Duran.
Pet Shop Boys & Disco Fundamentalis
“Pet Shop Boys Rayakan HUT RI di Bali”, itulah headline sebuah email berlangganan yang saya terima 22 Juni 2007 lalu. Saya sangat antusias membaca emailnya, karena bagi saya konser Pet Shop Boys menjadi salah satu dalam daftar konser wajib tonton.
Seketika emailnya saya forward, kemudian saya dan beberapa teman merencanakan untuk menonton bersama konsernya. Tapi awal Juli 2007, mereka membatalkan konsernya, Sedihh&kecewa!! Berita tersebut saya dapatkan dari situs petshopboysonline.net. Kekecewaan tersebut terobati ketika situs yang sama menyebutkan 8 Agustus 2007, Pet Shop Boys akan konser di Singapura, sebelum mereka mengadakan konser di Summer Sonic Festival di Jepang.
Pet Shop Boys here I come !!
Persiapan dadakan langsung saya lakukan. Saya memesan tiket di sistic.com.sg. Konser Pet Shop Boys ini menjadi bagian dari Sing Fest, festival musik yang diadakan dua hari di sebuah taman kota di Fort Canning. Pet Shop Boys tampil sebagai penutup konser di hari pertama, sebelumnya Shaggy, Sugar Ray dan Cyndi Lauper memanaskan panggung pertunjukan hari pertama Singfest.
Pet Shop Boys tampil setengah 12 malam waktu Singapura. Persiapan sekitar satu jam dibutuhkan memasang lampu dan layar putih untuk menampilkan visual grafis. Meskipun harus menunggu selama persiapan panggungnya, tapi seorang dj local menghibur penonton dengan lagu lagu elektronik dan new wave 80an.
Pertunjukan dimulai dengan permainan lampu dan visual grafis dengan intro lagu Left it to my device. Diawali dengan formasi gerak jalan, Neil Tennant & Chris Lowe muncul dan dibuntuti oleh penari latar. Masing masing memakai kostum yang berbeda. Neil memakai setelan jas penguin warna hitam, lengkap dengan topi borjuis nya. Sedangkan Chris memakai hoodie sweatshirt warna hijau neon dan tidak ketinggalan topi dan kaca mata buggles yang menjadi trademark nya. Suburbia menjadi lagu berikutnya yang dilengkapi gambar visual daerah pinggiran kota di Eropa yang menjadi inspirasi lagu ini. Gambar gambar tersebut membuat musik mereka lebih terartikulasi.
Isu seksual selalu mengiringi karir bermusik Pet Shop Boys,. Karena lirik lagu yang mereka buat. Memunculkan banyak arti dan kontroversi. Salah satu lagunya, Can you forgive her menjadi lagu ketiga. Kemudian diakhir lagu Neil mengucapkan kata pembuka, menyambut penonton dan memperkenalkan diri mereka sebagai Pet Shop Boys. Kemudian gambar visual seperti garis font calculator bermunculan mengikuti beat lagu yang dimainkan, sampai akhirnya lampu neon mulai menyala menyerupai sebuah bingkai layar super lebar. Gambar visual tadi akhirnya membentuk kata Minimal yang adalah judul lagu yang sedang dinyanyikan. Lagu ini diambil dari album terbaru sekaligus keenambelas, Fundamental yang dirilis tahun lalu
Duo synthpop ini menghadirkan konser yang sangat stylish, seperti penggunaan kostum yang sinergis dan up to trend. Kostum mereka ditangani salah satunya oleh Yohji Yamamoto dengan produk Y3 yang menggunakan warna hitam, putih, dan warna-warna neon yang sangat futuristic urban “hari begini”. Selain Neil & Chrish, penari latar & penyanyi latar mereka pun didandani pol-polan. Semuanya sangat seragam, tapi tidak membosankan. Konser semakin tambah seru ketika Shopping dinyanyikan. Kemudian lagu Heart, Opportunities, dan Numb dinyanyikan berturut turut oleh Neil Tenant yang baru berulang tahun ke 53, tepatnya 10 Juli lalu.
Satu satunya lagu yang dinyanyikan oleh Chris Lowe yang selama konser selalu berada di belakang keyboard dan midi adalah Parinaro. Lagu yang menceritakan kehidupan subkultur anak muda di Italia yang disebut Parinari yang banyak menentukan trend dunia dalam gaya hidup, dan fashion. Lirik utama lagu ini hanya terdiri dari delapan kata yang diulang ulang yaitu “Passion and Love and Sex and Money, Violence, Religion, Injustice and Death”
Setelah lagu bertema “pemberontakan”, Pet Shop Boys menghadirkan nuansa musim panas dengan irama Se A Vida E yang didukung dengan gambar grafis matahari di musim panas. Lagu ini di rmedley dengan lagu favorit saya Domino Dancing yang sedikit berirama latin. Kegembiraan mulai memuncak karena lagu yang dinyanyikan berikutnya adalah Always on my mind. Lagu yang lebih saya kenal dinyanyikan oleh Pet Shop Boys dibandingkan dengan penyanyi aslinya, sang legenda Elvis Presley. Penonton menikmati lagu ini sambil bernyanyi bersama dan tidak lupa bergoyang seadanya karena berdesakan. Lagu ketigabelas adalah lagu remake dari U2, Where the Streets Have No Name (Can’t Take My Eyes of You). Lagu ini dibawakan dengan koreografi dan kostum warna wani dengan bunga bunga bertebaran seperti parade parade Carnaval di Rio,Brazil.
Selain pemberontakan terhadap norma, kritik sosial sering menjadi tema lagu Pet Shop Boys. Salah satunya lagu West End Girls yang terinspirasi dari daerah di London yang dikenal dengan kelompok Borjuis, Cosmopolitan dan Materialistic. Sedangkan sebagian besar kelompok menengah dan pekerja tinggal di East End. Lagu ini juga menginspirasi lagu Jump dari Madonna. Kritik terhadap politik dunia yang cenderung memilih peperangan ditunjukan dengan koreografi dan kostum militer yang dihiasi pin warna warni ‘happy face” yang mengiringi lagu So Hard dan Sodom & The Sodom and Gomorrah Show. Mengutip interview Neil Tenant dengan situs www.fridae.com yang menyebutkan “We don't do a conventional sort of rock show. We're interested in theatre; we like the look and feel of theatre. Every time we do a show, we work with a theatre designer; this time we're working with Es Devlin, she's a well-known opera designer in London. Pet Shop Boys have worked hard over the last 30-odd years to design a kind of pop music theatre, which is the show we're bringing to Singapore”.
Intro lagu It’s a Sin berkumandang, kemudian Neil mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal. Lagu yang ditulis oleh Chris dan Neil ini menjadi the best-selling European single di tahun 1987 sekaligus membuat Amerika Serikat mencintai duo ini. Penonton tidak puas ketika Neil mulai silam diikuti oleh penari dan penyanyi latarnya meninggalkan Chris sendirian di belakang keyboard dan midinya. Seiring dengan lampu yang mulai meredup, Chris pun ikut menyusul silam. Tapi penonton tidak ikut silam menuju rumah, tapi tetap antusias karena lagu lagu favorit mereka masih ada yang belum dinyanyikan, akhirnya aksi meminta lebih dilakukan, and the story goes happily ever after. Go West kemudian penonton pun bernyanyi bersama. Di akhir lagu mereka memberikan salam perpisahan dan menyesal harus menyudahi konser malam itu karena jam sudah menunjukan pukul 1 pagi. Inilah konser paling larut yang pernah saya tonton sekaligus membuat saya larut kebahagiaan dalam kenangan mendengarkan Pet Shop Boys di era 90an karena malu ketika semua orang mendengarkan grunge music.
Pet Shop Boys juga berbagi kesenangan untuk anda yang belum berkesempatan menonton konser mereka, dengan mengeluarkan DVD Live Concert mereka yang berjudul"Cubism" yang dilengkapi oleh dokumentari "Pet Shop Boys in Mexico". DVD ini disutradarai oleh David Barnard yang menjadi sutradara konser Björk and Gorillaz. Mari berbagi kesenangan mendengarkan, menonton, menari, memberontak, dan menyayangi duo langka Pet Shop Boys...Happy Dancing!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar